Cerpen: Ikan-ikan yang Turun dari Langit
Sore itu, ikan-ikan turun dari langit di kota kami. Mereka turun bersamaan dengan azan asar dikumandangkan. Para warga yang melihat fenomena adikodrati itu lantas berlari ketakutan, bersembunyi di rumah masing-masing. Ikan-ikan itu begitu besar seukuran orang dewasa.
Kota kami akhirnya dipenuhi dengan ikan. Meskipun begitu, tidak seorang pun dari warga yang berani untuk mengambil ikan-ikan itu, apalagi memasaknya. Mereka, para warga, justru berupaya keras untuk menghindari ikan-ikan yang turun dari langit, termasuk mengabaikan ucapan para ikan.
Benar. Seminggu setelah ikan-ikan itu turun dari langit, mereka mulai mengeluarkan suara, mereka berbicara layaknya manusia. Bahkan mereka dapat bergerak bebas meskipun tidak berada di dalam air. Setiap hari ikan-ikan itu akan bergerombolan berlari ke kanan dan ke kiri.
Namun, daripada itu semua, yang paling menakutkan adalah ikan-ikan yang turun dari langit tersebut memakan tumbuhan yang ada di sekitar kami. Pepohonan mulai habis, tanah mulai kering, air menjadi gersang. Anak kecil setiap hari menanggis karena kehausan. Orang dewasa hanya meratapi keadaan sambil harap-harap cemas agar ikan-ikan itu segera pergi.
“Ini mengerikan,” desis Pak Tua. Dapat dikatakan dia adalah sesepuh di kota kami.
“Kita harus segera bertindak,” sambungnya.
“Tapi bagaimana kita akan bertindak, Pak Tua? ikan-ikan itu sangat banyak. Kami tidak yakin bisa melawan kekuatan mereka,” sahut salah seorang warga.
“Benar, Pak Tua. Fisik kami juga tidak cukup kuat dan bugar karena kalah berebut makanan dengan para ikan,” sahut lainnya.
Pak Tua terdiam. Ini adalah suatu kesalahan, pastilah ini sebuah karma, pikirnya. Sudah lama sekali Pak Tua merenungkan dari mana ikan-ikan itu datang, apa tujuan ikan-ikan itu datang ke sini, bahkan keberadaan mereka sudah melebihi kodrat alam—terlalu ajaib. Apa jangan-jangan mereka hasil penemuan sekelompok peneliti dan menjadikan kota ini sebagai tempat eksperimen?
Pak Tua menggeleng. Membantah pikirannya sendiri. Ia percaya Tuhan menugaskan manusia di bumi untuk menjadi khalifah: mengelola, menjaga, dan mengurus bumi. Mana mungkin manusia mengkhianati tugasnya itu. Manusia tidak sebodoh itu dengan memantik bom bunuh dirinya sendiri.
“Aku akan berbicara dengan tetua ikan,” ucap Pak Tua kemudian.
“Tapi ikan-ikan itu begitu licik, mereka pintar retorika. Bicaranya saja begitu diplomatis. Jika ditanggapi, mereka hanya akan mempermainkan kita, menebar janji-janji manis seperti seorang aparat sipil. Kan itu juga alasan kita tidak pernah menanggapi mereka,” tanggap seorang warga.
“Ya, memang benar. Namun, bagaimanapun juga kita tetap harus merundingkan ini dengan mereka agar kita hidup selaras. Selaras dengan alam. Jika mengkhianati hal itu, kita akan rusak. Kita harus memiliki kesepakatan dengan mereka. Hidup berdampingan dengan kedamaian,” jawab Pak Tua.
# # #
“Aku ingin bicara,” kata Pak Tua.
“Katakanlah,” ucap si tetua ikan.
“Aku tidak ingin muluk-muluk. Mari kita buat kesepakatan.”
“Kesepakatan?”
“Kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan tenang. Tidak saling mengusik dan berbagi makanan dengan adil.”
Tetua ikan tertawa. Ia lantas mendekati Pak Tua hingga berjarak dua ruas jari saja. Dari jarak itu Pak Tua dapat mencium bau amis dari lawan bericaranya.
“Bukankah seharusnya kau mengatakan itu pada kaummu? Manusia-manusia serakah. Bahkan kalian tidak peduli dengan membuang sampah sebarangan di habitat kami. Kalian tidak peduli ketika kepunahan terus mengerogoti kami. Lalu sekarang? Untuk apa kita hidup berdampingan dengan damai jika kalian sendirilah yang membuat pola hidup tidak damai?” ucap tetua ikan.
Pak tua terdiam. Tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan.
“Lagian bukankah hidup yang damai tidak akan membawa kedinamisan? Kalau begitu kita harus sering-sering membikin masalah,” tetua ikan lantas terkekeh.
“Kemajuan pun hanya akan jadi tahi babi jika masyarakatnya tidak sejahtera dan makmur,” desis pak tua.
“Wah, ternyata kau bisa mengeluarkan kata keji juga?” tetua ikan makin terbahak. “benar-benar ya, tidak ada di dunia ini yang suci sekalipun biji kedelai.”
Pak Tua hanya menatap lurus tetua ikan. Hari sudah mulia gelap. Meski kali ini dirinya syak, namun ia kembali menawarkan kesepakatan dengan tetua ikan.
“Kami menyadari jika bumi tidak hanya dihuni oleh manusia. Minta maaf pun rasa-rasanya terlalu klise untuk dikatakan. Jika memang kalian tidak ingin berdamai dengan kami, maka tidak ada pilihan lain selain berperang. Kami akan merebut wilayah kami hingga titik darah penghabisan,” ucap Pak Tua, mencoba mengancam.
Tetua ikan tampak terkejut dengan penuturan Pak Tua. Wajahnya kaku sehingga sulit untuk membacanya. Entah kemana wajah angkuhnya tadi.
# # #
Sudah sejak pagi orang-orang mengumpulkan benda tajam yang ada di rumah mereka. Aku sendiri membawa sendok dan garpu karena merekalah satu-satunya benda tajam yang kupunya. Di tempat pengumpulan, kulihat sudah banyak benda-benda tajam yang lain seperti tombak, pisau, panah, dan celurit. Sepertinya memang aku satu-satunya yang membawa sendok dan garpu di sini.
“Kita akan berperang, Al, bukan berpesta,” ucap Pak Tua melirik sendokku. Aku hanya meringis.
Awalnya semua orang memang tidak setuju dengan peperangan ini, termasuk aku. Ini terlalu tiba-tiba. Tiba-tiba menyiapkan senjata, tiba-tiba latihan, tiba-tiba menyusun strategi, tiba-tiba berdoa lama-lama. Padahal apa saja yang dilakukan tiba-tiba mesti banyak risikonya, mesti banyak celanya.
Namun, apa boleh buat jika memang ini satu-satunya jalan untuk menggulingkan kesengsaraan ini. Tetua ikan tidak mau menerima perjanjian damai kami. Maka petang itu, setelah semua senjata terkumpul dan Pak Tua memberi petuah, semua lelaki di kota kami pergi berperang.
# # #
Seperti yang sudah kami duga, kami menang. Ikan-ikan itu bahkan bersedia pergi dari kota kami. orang-orang kembali bahagia dan pulang ke rumah masing-masing dengan senyum bahagia. Aku sendiri sungguh tidak sabar ingin mengatakan ini dengan ibu dan adik perempuanku.
Aku berjalan begitu tergesa-gesa hingga mengabaikan kakiku yang beberapa kali tersandung oleh batu kerikil. Beberapa luka hasil perang saja tidak begitu kuhiraukan, apalagi hanya batu kecil seperti ini. aku tidak sabar sampai ke rumah.
“Ibu, kami berha—, ada apa ini?”
Aku menatap tidak percaya pada yang kulihat. Ibu dan adikku dalam keadaan luka-luka tidak berbusana? Apa yang tidak terjadi? Wajahku memerah menahan marah. Aku mencoba tenang agar mereka tidak merasa lebih terguncang dan takut.
“Mereka, Al, mereka. Hiks. Mereka telah menodai ibu dan adikmu, bahkan mungkin semua perempuan yang tadi tidak ikut berperang,” tutur ibu yang seketika menghancurkan hatiku.
“Mereka siapa, Bu?”
“Ikan-ikan itu.”[1]


Komentar
Posting Komentar