Cerpen: Penyesalan Seekor Ikan
Sudah satu bulan ini aku tinggal di stoples kecil di rumah perempuan itu. Setiap pagi dan sore, perempuan itu rajin memberiku cacing tanah dan hewan kecil lainnya yang tidak kutahu namanya. Yang kutahu, perempuan itu mendapatkan hewan-hewan itu dari samping rumahnya.
“Makan yang banyak ya, kau harus hidup,” katanya setelah sore itu memberiku cacing tanah.
Hah, apa dia tidak tahu kalo cacing yang dimakan ikan badut air laut adalah cacing darah? Untungnya saja selain diriku, di dalam stoples ini juga terdapat jenis tanaman yang bisa kumakan. Aku pun tidak bisa menyalahkannya karena pacarnya yang bodoh itu tidak memberi tahunya cara merawatku. Hendry. Dialah nama pacarnya, dia juga yang memberiku pada perempuan ini saat perayaan satu minggu hari jadian mereka.
“Hmm, kenapa badut kecil ini tidak pernah memakan cacing yang aku kasih? Apakah ikan pemberian Hendry ini belum beradaptasi?” gumamnya. “huft, aku jadi merindukan Hendy.”
Perempuan itu lantas memandangiku sambil bercerita ini itu. Cerita yang sebenarnya sudah kutahu karena kami tinggal satu rumah—di mana aku tahu semua aktivitasnya. Tapi demi menghargainya, setidaknya aku tidak masuk ke dalam rumah batuku. Perempuan itu mula-mula menceritakan kegiatannya hari ini kemudian mulai merancau-rancau tidak jelas merindukan pacarnya, si Hendry yang—berdasarkan ceritanya—sedang pergi keluar kota untuk keperluan bisnis.
“Ya semoga saja, jika Hendry pulang, dia akan membawa ikan lain. Setidaknya kau jadi punya teman, hihi,” pungkasnya lalu pergi ke dapur.
Ah, sialan. Mentang-mentang sekarang dia punya pacar apa matanya menjadi sakit jika melihat kejombloan? Tapi entah mengapa perkataan perempuan itu jadi sedikit mengusik pikiranku, bahkan diam-diam aku mulai mengasihani kesendirianku ini. Aku diam-diam berdoa kepada Tuhan, tolong beri aku satu teman yang asyik. Lalu di kemudian hari doaku bertambah, tolong beri aku satu teman yang asyik dan cantik. Lalu bertambah lagi menjadi, tolong beri aku satu teman yang asyik, cantik, dan kelak akan menjadi istriku. Terus berdoa dari hari ke hari, dari jam ke jam, sampai akhirnya aku malas dan putus asa karena tidak kunjung dikabulkan. Mungkin aku ingin menjadi seekor ikan biarawan saja. Ngawur.
***
“Sayang, kurasa Mia butuh refreshing. Apa kita bawa saja dia ke laut?” ucap Hendry setelah mengecekku sekali lagi.
Sejak matahari menampakkan wajahnya di ufuk timur lelaki itu sudah mengecekku hampir sepuluh kali, seakan-akan memastikan bahwa aku masih ada di dalam stoples itu.
Ya, Mia adalah nama yang mereka berikan padaku. Mereka mengira aku adalah ikan betina karena menilai wajahku cantik. Aku sendiri juga tidak paham bagaimana standar cantik dari wajahku menurut mereka, tapi yang jelas aku cukup kesal dengan itu. Apakah mereka benar-benar tidak tahu kalau semua ikan badut terlahir dengan jenis kelamin jantan? Dasar miskin literasi.
“Sepertinya Mia kesepian,” tambahnya, kali ini lelaki itu sedang memandangiku dengan wajah yang sangat menyiratkan bahwa dirinya sedang mengasihaniku.
“Haruskah? Atau kita bawakan saja ikan jantan untuk dijadikannya teman,” usul Ana.
“Ayo kita bawa ke laut saja, sekalian bulan madu. Kita pergi ke Indonesia, katanya di sana ada nadran. Pasti menyenangkan.”
“Nadran?”
“Ya, nadran. Pesta laut.”
“Baiklah,” ucap Ana.
Pasutri baru itu kemudian memadu kasih saling mempertemukan bibir mereka. Aku pergi ke dalam rumah batuku.
***
Nadran rupanya seramai ini. Banyak orang yang membawa makanan mereka menuju pantai. Aku tidak begitu menikmatinya karena Hendry dan Ana membawaku kesana-kemari menggunakan botol minum kaca. Ini sangat sempit, aku merindukan stoplesku di rumah. Sekarang aku tiba-tiba saja merasa sedih dan lemah karena tidak memiliki kuasa menyuarakan apa pun dalam perjalanan ini. Hendry dan Ana bisa bebas kesana-kemari. Bisa berkomunikasi dengan lancar, bisa menolak apa pun yang tidak mereka sukai, dan setuju saat mereka merasa oke. Sedangkan aku yang seekor ikan ini? hanya bisa mengikuti mereka. Aku benci ini.
Aku menangis dalam botol minum itu. Aku berdoa agar botol ini pecah dan aku bisa kembali ke laut. Lalu entah bagaimana Tuhan mengabulkan doaku kali ini—meski tidak pecah. Belum. Saat semua orang bersiap untuk melarutkan sesaji mereka ke laut, aku terbawa. Botolku ikut meliuk-liuk mengikuti arus laut dan aku di dalam botol itu.
“Apakah botol ini bisa pecah? Kenapa aku harus berada di dalam botol ini?”
Lagi-lagi aku menggerutu dan merasa sedih atas ketidakberdayaanku untuk keluar dari botol. Bahkan setelah terlepas dari Hendry dan Ana, aku masih dipenjara oleh botol ini. Haruskah aku berdoa supaya bisa menjadi manusia?
Aku melihat ke kiri dan ke kanan, semuanya adalah sesaji yang dilarutkan para nelayan. Ada kepala kerbau, kembang tujuh rupa, pisang tujuh rupa, bumbu-bumbu, jajan pasar dan peralatan make up. Aku tidak tahu dan tidak peduli apa filosofi dari benda-benda itu, tapi satu hal yang menarik dari benda-benda ini. Kepala kerbau itu menghadap tepat di botolku. Lubang hidungnya besar sekali.
“Ayo,” seru para nelayan tiba-tiba.
Aku panik. Kenapa tiba-tiba mereka bertingkah gaduh dan mendekat pada sesaji yang sudah mereka larutkan. Tuhan, apakah mereka bergerak ke sini untuk menyelamatkanku? Aku merasa bahagia dengan harapan itu, aku menangis.
“Aku ingin pisang.”
“Aku mau jajan pasarnya.”
Botolku terguncang oleh kehadiran mereka. Apa ini? Rupanya mereka datang untuk memperebutkan sesaji. Nelayan-nelayan itu tertawa keras dan saling dorong untuk memperebutkan sesaji. Botolku terkocok dan aku menabrak sisi botol. Rasanya pusing dan mual. Aku pingsan.
***
Saat aku bangun botolku sudah pecah. Aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, yang kutahu aku tersadar dengan keadaan terkapar dan beberapa bagian tubuhku terluka. Mungkin karena terkena beling dari pecahan botol minum. Sedikit tertatih aku mencoba berenang, kulihat selain botolku yang pecah di sini juga ada beberapa benda lain yang familier kutemui di rumah Ana. Ada sendok, plastik bekas snack, papan kayu, botol yang masih utuh, hingga celana dalam. Semua keadaan benda-benda tersebut sedikit berlumut.
Lalu aku menyadari sesuatu, di sini tidak ada seekorpun ikan. Aku sendirian. Bergegas aku berenang mencari keberadaan mereka. Aku berenang sedikit lambat karena memang keadaan tubuhku yang luka-luka. Menyusuri laut sejauh yang aku mampu hingga aku menemukan ikan-ikan bertubuh ramping, panjang, memiliki banyak gigi, dan warnanya perak. Mereka menyebut dirinya ikan layur. Lalu aku bertanya apakah mereka melihat kelompok ikan yang sama sepertiku.
“Kami tahu, tapi tidak tahu di mana keberadaan pasti mereka. Terakhir kami melihat mereka berenang di samping kapal besar,” jawab salah satu dari mereka.
Aku kembali berenang dan terus berenang. Bertanya dari ikan satu ke ikan yang lain dengan pertanyaan yang sama, namun mereka semua kompak menjawab seperti ikan layur. Masalahnya di mana kapal besar yang mereka maksud? Aku mulai putus asa, dengan keadaan tubuhku yang luka, aku kehilangan Ana dan Hendry, lalu sekarang aku juga tidak menemukan satu pun ikan yang sama denganku. Badanku sungguh lelah dan tidak fokus, tanpa sadar aku menabrak kura-kura tua yang berenang dari arah berlawanan.
“Ah, maafkan aku,” kataku spontan pada si kura-kura tua.
“Tidak apa-apa. Tapi bukankah kau ikan badut?” tanyanya.
Hal itu membuat semangat hidup membara pada diriku. Kura-kura itu mengenaliku, artinya dia pasti pernah bertemu kelompok ikan yang sama denganku.
“Betul, apa kau pernah melihat kawananku?”
“Iya, Aku melihat mereka beberapa hari yang lalu tapi mereka semua sudah diangkut ke darat oleh manusia. Ada puluhan ikan badut. Kupikir sudah tidak ada ikan badut di sini, ternyata masih ada kau,” ucapnya.
“Apa artinya di laut ini sudah tidak ada ikan badut?” tanyaku cemas.
“Ada, tapi itu jauh sekali dari sini. Beberapa bulan yang lalu aku bertemu mereka di laut daerah selatan.”
“Daerah selatan?”
“Ya, tapi itu jauh sekali. Kurasa sulit untukmu ke sana.”
“Tapi aku sendirian di sini. Ini pertama kali aku kembali ke laut setelah sekian lama, aku merasa asing,” kataku murung.
“Oh, kasihan sekali. Kalau begitu hiduplah tanpa kelompok di sini. Aku juga hidup sendirian setelah sekian lama,” jawab kura-kura tua dan berlalu.
Tapi aku tidak mau sendirian di sini. Aku ingin hidup bersama kelompokku. Aku frustrasi dan sekarang lapar. Seakan mendapat berkat Tuhan, kulihat terdapat kail dengan umpan yang melambai-lambai, seakan-akan tengah memintaku untuk memakannya. Aku mendekat dan hup, aku memakannya, tapi saat aku akan pergi justru aku merasakan mulutku sobek. Aku ditarik ke daratan oleh kail itu.
“Sial, kenapa ikan kecil?” ucap seorang anak laki-laki yang saat ini tengah menatapku kesal.
Aku membuka dan menutup mulutku berkali-kali. Aku butuh air. Namun semakin aku menggerakkan mulut ini, semakin sobekan itu membesar dan menciptakan rasa perih yang teramat sangat. Anak laki-laki yang menangkapku melepaskanku kembali di laut dalam keadaan sekarat.
Kurang ajar. Lagi-lagi aku menangis. Barangkali karena aku ikan kecil sehingga dirinya menganggap aku kurang bermanfaat tapi haruskah aku dilepaskan dalam keadaan sekarat seperti ini? aku rasa aku mulai stres hidup seperti ini. Aku bertekad akan berenang ke laut daerah selatan dan mencari kawananku. Tapi tunggu, di mana laut daerah selatan yang dimaksud si kura-kura tua? Aku kembali frustrasi.
Nb. sebelumnya cerpen pernah dimuat di sini

kerenn bgt, lanjutannya pliss😿
BalasHapus