Celoteh: Haha-hihi Perkampusan
//1//
“J, kudengar akhir-akhir ini kau sering bertemu dengan Mas Dadang?”
“Ya, kami membicarakan banyak mengenai tupoksi keorganisasian dan berdiskusi mengenai siapa-siapa saja yang sebaiknya mengisi kursi jabatan di organisasi.”
“Edan. Apa kau sedang dibodohi?”
“Maksudmu apa?” ucapnya terdengar tidak terima.
“Kau calon ketua peroide depan. Kau tidak sadar Mas Dadang sedang menyetirmu?”
“Kau terlalu berburuk sangka. Mas Dadang hanya shearing denganku, dia kan memang memiliki banyak relasi dan kenalan. Jelas dia lebih mengetahui bagaimana sifat dan karakter mereka. Bukankah wajar jika setelahnya Dadang memberiku pandangan mengenai watak mereka dan kinerja mereka? Toh keputusan final tetap ada di aku, Mas Dadang tidak berhak ikut campur.”
Aku memperhatikan kawanku ini dengan tatapan tidak percaya. Tidak percaya apakah dia memang polos, naif, atau menolak paham. Kupikir karakternya yang dewasa dan bijaksana menjadikannya peka dan waspada terhadap hal-hal seperti ini, sebab sejujurnya aku percaya peringaiannya ini pula lah yang menjadikannya kandidat terkuat untuk Presiden Mahasiswa (Presma) sejauh ini. Namun aku lupa, dia juga manusia yang bisa ceroboh, lemah, dan terlena.
“Sudahlah, kau jangan terlalu banyak curiga. Niat Mas Dadang baik kog, tentu saja aku tidak membela dia karena kami berada di partai yang sama,” ujarnya.
Aku tergelak pelan.
“Bilang saja kau masih dikeloni tetua partaimu itu, tidak berani bilang “tidak” pada sesepuh. Toh, kalau kamu memang tidak bisa terlepas dari belenggu ini—masih banyak mahasiswa yang punya otak dan integritas. Jangan khawatir,” ucapku.
//2//
Untuk mendapatkan kemenangan—meraih ‘kursi’, sebenarnya bisa menggunakan jalur independen dan partai. Ah, tapi jika jalur independen bisa menghasilkan kemenangan, mengapa sejauh ini belum kutemui Presma di kampusku yang independen ya. Seperti jalur independen memang meragukan, lebih baik jangan dicoba apalagi direalisasikan.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah calon Presma yang diusung dari sebuah partai lantas akan membalas budi setelah dia memenangkan suara? Yang jelas sekarang sudah ada yang namanya ‘politik praktis’, jadi semua bayar di muka—tidak ada yang namanya balas budi.
Buruknya, sejumlah posisi kemudian diisi oleh orang yang tidak tepat. Mereka memiliki latar belakang yang tidak meyakinkan dan akibatnya tidak kompeten. Tapi siapa juga peduli dengan hal demikian? Mahasiswa sekarang ini lebih mementingkan prestasi akademik yang konon membawa keberuntungan di masa kerja.
//3//
“Aku ingin membuat penelitian yang mengenai presentasi calon yang mendominasi untuk dipilih oleh mahasiwa,” celutuk Ari tiba-tiba, kawan sekelasku.
“Memang hasilnya ingin kau unggah di mana?” tanyaku.
“Di instragram.”
“Siapa pula yang akan melihat postinganmu, pengikutmu saja kurang dari 300,” komentarku lalu tertawa mengejeknya.
Namun setelah itu justru dialah yang tertawa.
“Tentu saja akan aku post lewat instragram dengan pengikut yang banyak, U****TZ misalnya. Selain itu aku juga bisa melemparkannya ke warta kampus. Mereka pasti butuh berita,” ucapnya sungguh-sungguh.
Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan berkomentar banyak soal strategi luar biasa kawanku itu, walaupun sebenarnya sangsi juga. Dia terlalu meremehkan idealis media-media itu.
“Yang pasti sekarang aku butuh bantuanmu buat penelitian ini. Bantu ya, ada duitnya kog,” lanjutnya.
“Ya sudah. Nanti traktir aku kopi saja,” balasku.
Kemudian aku membuat sedikit coret-coret seperti berapa responden yang diperlukan, pertanyaan apa saja yang diajukan, ke mana saja harus mencari sample dan seterusnya.
“Kalau begini kandidat B pasti kalah,” ucapanya setelah menerima catatanku.
“Lalu kenapa? Yang penting tidak direkaya.”
Ari tergelak. “Penelitian ini pakai duit kandidat B, jadi harus dia yang paling atas.”
“Lah? Jadi ini penelitian pesanan?” tanyaku.

Komentar
Posting Komentar