Celoteh: Mendirikan Partai

 

halo kawan-kawan yang baik. tulisan ini semata-mata hanya untuk mengisi kegabutan dan untuk hiburan. terima kasih sudah membaca.

 

Hari ini, 270 daerah serentak mengadakan pencoblosan Pilkada 2020 termasuk daerahku. Pagi-pagi sekali salah satu sepupu yang memang rumahnya berdekatan dengan rumahku datang dan memintaku untuk bersiap-siap.

 

”Acara masih nanti jam 8, kenapa sih siap-siap sekarang,” kataku malas.

 

”Ya ampun Chaa, ini pertama kali ada Pilkada selama masa pandemi. Lebih baik kita pergi dulu deh, biar bisa menghindari kerumunan,” ucap sepupuku, heboh.

 

Sebenarnya bisa saja kami berangkat sekarang karena memang sedang tidak memiliki kesibukan apapun. Namun ini masih pukul setengah 4 pagi. Aku saja ragu apakah ayam sudah berkokok di hari yang masih gelap gulita seperti ini. Lagi pula jika antrean mencoblos belum dibuka atau bahkan belum disiapkan, apalah yang akan kami lakukan di sana nanti?

 

“Kamu jangan banyak malas. Inget, Ijhad wala-taksal wala-takun go-filan fanada-matul 'ula liman yataka-sal akibat dari malas itu penyesalan,” ucapnya menasehati. “lagian bukannya kamu mau bikin partai? Begitu kog malas-malasan.”

 

“Bukan aku, tapi ayahmu. Aku kan cuman bantu,” elakku.

 

“Halah, kamu pikir aku nggak tahu. Tapi kenapa sih kamu bikin partai, hamburin uang saja.”

 

“Sembarangan. Aku tuh bikin partai juga setelah memikirkan banyak hal. Partai ini kubuat untuk bekerja melawan kezaliman, menegakkan keadilan, dan menciptakan masyarakat madani. Asasnya saja rahmatan lil alamin. Pastilah partai ini nantinya akan membawa berkah untuk semuanya,” ucapku.

  

“Hah, kamu tahu dari mana jika partai ini bakal membawa berkah nantinya? Lagi pula aku masih meragukan niatmu mendirikan partai. Apa benar itu adalah iktikad luhur untuk melayani masyarakat atau untuk menuruti nafsu belaka.”

 

“Sudahlah,” kataku kemudian. “aku juga telah mendaftarkannya ke Komisi Pemilihan Umum. Tinggal menunggu verifikasi saja. Kamu tidak usah memusingkan hal ini.”

 

“Kalau begitu semoga tidak lolos,” responnya.

 

Sejujurnya ucapannya cukup memancingku untuk bertengkar dan karena itu aku memilih diam. Pura-pura sibuk dengan melipat selimut dan merapikan kamar. Namun bukan sepupuku namanya kalau tidak keras kepala.

 

“Dengar Cha,” tiba-tiba saja suaranya terdengar serius. “Saat ini sudah ada puluhan partai yang lolos dan itu sudah terlalu banyak. Sekarang masyarakat juga sudah anti kepada partai. Mendengar kata ‘partai’ saja yang dibayangkan adalah suap, korupsi, pelecehan. Citra partai sudah lama hancur.”

 

“Ya karena itu sekalian aku ingin membenahi citra partai,” sahutku yang tanpa sadar sudah meninggikan suara.

 

“Percuma. Partai-partai baru seperti partaimu itu sulit laku. Dan kalau kamu ingin membawa perubahan kamu harus punya pengaruh besar, kekuasaan. Kamu yakin  bisa milikin itu?”

 

Aku menghela napas berat. Apa yang dikatakan sepupuku memang tidak sepenuhnya salah. Bukan bermaksud pesimis. Hanya saja, masyarakat telah terpola dengan tiga partai yang sulit untuk diurai, Golkar mewakili kekaryaan, PDI mewakili kaum nasionalis, dan PPP mewakili Islam. Jika ditambah dua yakni, PKS dan partai demokrat, ya semestinya cukup lima partai. Partai baru seperti Gerinda, Hanura dan lainnya itu kan Golkar dalam bentuk lain. Lalu PNI, Marhaenis, Banteng Kemerdekaan dan sejenisnya juga sepaham dengan PDI. Begitu pula dengan partai yang berbau Islam.

 

 “Sekarang aku tanya sekali lagi, sebenarnya apa iktikadmu bikin partai?”

 

Aku hanya menghela napas, menggeleng pelan dan pamit untuk mandi. Bersiap-siap ke tempat pencoblosan.

Komentar

Postingan Populer