Celoteh: Keponakanku (3)
“Tante, aku ingin punya rumah nanas,” kata bocah berumur 15 tahun itu, keponakanku. Sekarang dia telah memasuki kelas paling akhir di tingkat SMP.
“Kenapa?”
“Pengin saja, kayak rumahnya Spongbob. Keren begitu, masa rumah nanasnya ada di dalam air.”
“Kalo begitu, itu bukan rumah, itu sampah. Nggak masuk akal,” ucapku.
“Namanya juga film, Tan. Semua yang ada di sana pasti nggak masuk akal, ganjil, dan terlihat aneh. Tapi masih bisa diterima-terima saja tuh.”
“Konsep diterima-terima saja karena dia film. Keberadaan nanas di dalam laut memang ada? Kalaupun ada pasti cuman sampah atau nanas-nanasan. Karena laut bukan tempat untuk si nanas,” kataku. Kalau dalam sebuah karya sastra, ada yang namanya realitas imajinatif dan realitas objektif. Singkatnya, sekalipun sebuah cerita terinspirasi dari masalah tertentu yang terjadi di masyarakat, namun dia tetap diciptakan pengarang secara individu atau dari imajinasi pengarang saat itu. Khayalan.
“Kog tante jadi membatasi kebebasan berpikir sih, katanya nothing impossible,” ucapnya tak terima.
“Bukan membatasi kebebasan berpikir, tapi itu realitanya.”
“Berarti, semua yang ada di dunia ini harus menempati tempat yang seharusnya ya Tan?” tanyannya.
Aku mangut-mangut. Seharusnya sih begitu. Tidak ada yang bisa menempati suatu tempat yang bukan tempatnya, selain dengan izin Tuhan, setidaknya. Kalau sekedar mampir mungkin masih bisa, kalau benar-benar bertahan mana ada? Kursi pemerintah misalnya. Mana ada yang bertahan di sana. Apalagi jika sudah jelas-jelas memberikan dampak buruk, harusnya langsung turun kursi saja.
Jadi, kalau ada yang bisa bertahan di kursi pemerintahan sekalipun terbukti melakukan pelanggaran, pasti orangnya bukan kaleng-kaleng. Izedrik Emir Moies, misalnya. Mantan narapidana korupsi proyek pembangunan PLTU di Lampung itu sudah nangkring saja di PT Pupuk Iskandar Muda sebagai komisaris. Padahal dirinya terbukti sudah menerima suap 423 ribu dolar AS dari Alstom Power Incorporated (Amerika Serikat) supaya konsorsium Alstom Inc., Marubeni Corporation (Jepang), dan PT Alstom energi System (Indonesia) memenangkan proyek pembangunan 6 bagian Pembangkit Listrik Tenaga Uap 1.000 megawatt di Tarahan.
Ya, dia pasti bukan kaleng-kaleng. Terlepas dari istilah “bukan kaleng-kaleng” yang dipopulerkan Maell Lee menjurus ke arah hebat positif atau hebat negatif. Posisi Azedrik saat ini sudah menunjukkan bahwa dirinya bukan orang sembarangan.
Bukan hanya Emir, di Kepulauan Riau ada 14 matan narapidana korupsi yang menduduki posisi penting di pemerintahan daerah dalam lingkungan Provinsi Kepri. Semua sudah terbukti jelas telah melakukan tindakan bejat tersebut, namun masih bisa menempati kursi pemerintahan. Bukan kaleng-kaleng. Ah, aku tahu, pasti mereka kembali ditunjuk untuk menduduki kursi pemerintahan, karena yang lain tidak kompeten. Ya sepertinya begitu. Pasti begitu. Tidak ada yang kompeten selain mereka. Indonesia seharusnya mengucapkan terima kasih dan tepuk tangan yang meriah karena mereka masih sudi diminta untuk mengisi kursi pemerintahan.
Dikasih halal, mau yang haram
Sudah tahu salah, tapi masih saja
Hu hu hu hu
Ini kisah nyata, orangnya masih ada
Susah mengubah tabiatnya
Terdengar lagu Enau – Krisis Solusi dari kamar sebelah. Rupanya keponakanku sudah tidak ada di sampingku. Pasti dia yang memutar lagu itu.
Salam,
Ulul Faricha Luqman.

Komentar
Posting Komentar