cerpen: Menghadap Tuhan

 

“Mau kemana bung?”

 

Ini sudah hari ke-20 aku melihat seseorang berpakaian putih berjalan ke arah barat. Dalam perjalanan itu, aku selalu melihat mereka merekahkan senyum yang lebar. Merasa penasaran, aku menanyai seseorang yang hari itu berpakaian putih berpapasan denganku.

 

“Mau menemui Tuhan,” jawabnya.

 

“Ada perlu apa?”

 

“Aku hanya diminta untuk menghadap-Nya.”

 

“Di mana kau akan menemui Tuhan?”

 

“Entahlah, tapi Dia memintaku untuk menunggu di perempatan jalan, kata-Nya nanti akan ada malaikat yang menjemputku.”

 

Aku manggut-manggut dan mengucapkan hati-hati di jalan. Sebenarnya aku penasaran mengapa Tuhan memanggil orang-orang itu. Terlebih lagi, mereka dari kelompok yang tidak terduga. Kapan hari kutahu orang yang diminta menghadap adalah seorang imam masjid, lalu seorang preman, petani, dan seorang DPR. Satu hal tidak berubah adalah mereka (baca: orang-orang yang diminta menghadap Tuhan) selalu berpakaian putih dan pergi ke perempatan jalan dengan berjalan kaki.

 

Selanjutnya, yang kudengar dari desas-desus tetangga sebelah, orang-orang yang telah menemui Tuhan selalu pulang dengan wajah bercahaya. Awalnya aku tidak percaya, mana ada orang dengan wajah bercahaya? Dikira lampu. Tetapi setelah bertemu dengan pak Dadang, (tetanggaku yang juga baru saja diminta menghadap Tuhan) aku menjadi percaya. Wajah pak Dadang bercahaya, seperti bulan purnama di malam hari. Hal ini membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka.

 

Esoknya, aku bertemu dengan kawan lamaku, Asoka. Aku ingin mendiskusikan mengenai hal ini dengannya. Aku senang berdiskusi dengan Asoka karena dia penuh dengan petuah dan tenang. Pernah suatu kali dia berkata seperti ini, bebas tidak ada artinya jika tidak berpendidikan, bebas itu bukan prinsip tapi kebijaksaan. Lalu dia memintaku untuk  banyak membaca buku dan mendengarkan lagu. Waktu itu aku memang terlalu mengagung-agungkan kebebasan hingga menutup mata dan telinga dari penilaian sekitar terhadap diriku. Tapi aku lupa bahwa bukan hanya harga diriku yang kubawa, namun juga harga diri orang tuaku. Aku telah bertindak seperti orang yang tidak pernah belajar.

 

“Maaf, baru selesai beol,” katanya lalu memesan kopi hitam dan bergabung bersamaku. Kami sedang singgah di warung kopi milik pak Dadang.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” lanjutnya.

 

“Menurutmu mengapa akhir-akhir ini Tuhan meminta orang-orang untuk bertemu dengan-Nya?”

 

“Mereka yang dipanggil Tuhan, mengapa bertanya padaku?”

 

“Sebab kamu sarjana agama,” jawabku asal.

 

“Itu bukan urusan kamu, juga bukan urusanku. Itu urusan mereka dengan Tuhan. Ayo diskusikan yang lain.”

 

Saat itu aku ingin mengatakan dia payah karena tidak biasanya tidak menghindari topik diskusi. Namun sebelum aku mengungkapkannya, suara pak Dadang lebih dulu menyela.

 

“Mas Harsa, Mas Asoka. Saya nitip warung sebentar ya, mau ke perempatan dulu,” pinta pak Dadang.

 

“Bapak dipanggil Tuhan lagi?” tanyaku. Kulihat pak Dadang memakai pakaian serba putih seperti beberapa hari yang lalu.

 

“Bukan. Tapi kambing saya, bapak cuman mengantar sampai perempatan saja.”

 

Setelah itu pak Dadang dan si kambing berpamitan. Aku menatap mereka hingga hilang ditelan jalan. Dalam pikiranku berlarian banyak tanda tanya. Aku bertekad tetap akan memaksa Asoka berkomentar mengenai kejadian ini. Aku masih belum bisa beradaptasi dengan kejadian ini.

 

Namun sebelum aku membuka suara, lagi-lagi ada saja yang menyalip. Kali ini suara Asoka, dia menyapa perempuan dengan baju rapat dari ujung kepala hingga mata kaki. Baju berwarna hijau yang sekali lihat, aku dapat menilai itu adalah baju yang sudah terlalu lama mendekam di lemari. Sangat ketinggalan zaman.

 

“Hai Bela, kau akan pergi? Padahal nanti malam aku ingin bertemu denganmu.”

 

“Aku diminta untuk menemui Tuhan, jika nanti sudah selesai mungkin aku akan menemuimu,” jawabnya tersenyum malu-malu.

 

“Baiklah, aku akan mampir ke pondok bunga,” jawab Asoka.

 

Pondok bunga? Bukankah itu tempat prostitusi? Apa perempuan ini adalah salah satu pekerja seks? Namun daripada itu ada hal yang lebih mengganggu pikiranku.

 

“Mengapa kau memakai baju hijau? Semua orang yang dipanggil Tuhan memakai baju putih,” tanyaku.

 

“Memang kenapa?” tanya perempuan itu.

 

“Bukankah itu sudah pasti. Tuhan menyukai sesuatu yang bersih dan indah, representasi dari warna putih.”

 

Perempuan itu tertawa. Astaga, indah sekali. Asoka menyenggolku tak suka.

 

“Siapa yang menentukan hal seperti itu? Bersih dan indah tidak harus putih, kau termakan omong kosong tak berdasar.”

 

“Tapi semua orang yang-,”

 

“Tuhan tidak akan marah meskipun aku tidak berpakaian, Dia bahkan membiarkan kita terlahir telanjang” sela perempuan itu. “Tapi aku cukup tahu diri untuk menghadap Tuhan.”

 

kalimat itu menutup percakapan hari itu. Tahu diri untuk menghadap Tuhan. Benarkah begitu? Daripada aku memusingkan apa yang terjadi dari antara mereka dengan Tuhan, akan lebih baik jika aku juga menjadi tahu diri dulu sebelum dipanggil.  

 

Nganjuk, 04 jul 2021

Ulul Faricha L

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer