Mengenal H.B. Jassin sebagai Perawat Sastra Indonesia
pict: Detik.com
Judul: H.B. Jassin Perawat Sastra Indonesia
Pengarang: Prih Suharto
Penerbit: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 56 hal
ISBN: 978 – 602 – 437 – 263 – 7
Prih Suharto menempuh pendidikan dasar dan menegah di Jakarta, lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pakuan dan Universitas Indonesia. Sejak 1991 ia bekerja di Pusat Bahasa, yang kini dikenal sebagai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
H.B. Jassin Perawat Sastra Indonesia merupakan salah satu buku Prih Suharto. Buku ini berisikan riwayat singkat H.B. Jassin sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia sastra Indonesia. Nama lengkap dari H.B. Jassin adalah Hans Bague Jassin, lahir di Gorontalo 13 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta 11 Maret 2000.
Semasa perjalanan hidupnya di dunia sastra, Jassin lekat dengan berbagai julukan, entah itu baik maupun buruk. Julukan tersebut adalah Paus Sastra, Pembela Sastra, Kritikus Sastra, Juru Bicara Angkatan 45, Redaktur Abadi, Dokumentator Sastra, Penerjemah, hingga Perawat Sastra. Kepada julukan Perawat Sastra, Jassin dikenal sebagai seseorang yang rajin dan ulet mengumpulkan semua hal yang berkaitan dengan karya sastra (yang berserakan di koran dan di majalah) ataupun pengarangnya (termasuk undangan pernikahan atau khitanan keluarga pengarang) lalu diguntingnya dan dibuat kliping dalam kelompok: karya, kritik, biografi.
Koleksi Jassin ini juga bertambah dengan kesenangannya mengumpulkan buku-buku. Karena terlalu banyak, akhirnya sebagain dari koleksinya ini disimpan di kantornya yang teletak di Salemba, Jakarta. Jassin mengerjakan ini terus-menerus hingga rumah maupun kantor tidak lagi sanggup menampung. Akhirnya Ali Sadikin, gubernur Jakarta waktu itu (mendengar hal ini dan juga mengetahui niat baik Jassin bagi kesusastraan) mencoba mencarikan jalan keluar dengan menyerahkan sebuah gedung di kompleks Taman Marzuki untuk dijadikan tempat khusus menyimpan buku dan kliping Jassin.
Saat ini, berkat jasa Jassin merawat sastra itulah, orang menjadi mudah mendapatkan bacaan sastra yang terbit beberapa tahun lalu. Setelah Jassin meninggal dunia, banyak orang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah menjumpai orang memiliki perhatian begitu besar pada kesusastraan Indonesia seperti Jassin.
Yang menarik dalam buku ini, terdapat kisah Jassin dengan Chairil Anwar. Banyak yang tidak menyukai Chairil karena dianggap tidak sopan, ia suka berteriak, jika duduk kakinya diangkat, dan semaunya: terkadang ke rumah Jassin siang, tekadang malam. Entah beberapa kali pula Cahiril datang ke rumah Jassin hanya untuk ikut makan. Bahkan suatu ketika Chairil datang naik becak, tetapi Jassinlah yang diminta membayar becak itu.
Atas semua yang dilakukan sahabatnya itu, Jassin selalu menanggapinya dengan sabar, tanpa kemarahan. Namun terdapat satu yang membuat Jassin kesal: Chairil meminjam buku, tetapi tidak mengembalikan.
###
Adapun mengenai kelebihan dari buku ini adalah tata bahasa yang menyenangkan sehingga pembaca mudah mengerti dan juga terdapat dokumentasi dari perjalanan hidup H. B. Jassin. Hanya saja cover untuk buku ini telalu simpel seingga dinilai kurang menarik.


Komentar
Posting Komentar