Catatan di Rumah Sakit
Judul: Seperti Roda Berputar
Pengarang: Rusdi Mathari
Tahun Terbit: 2018
Penerbit: Buku Mojok
Rusdi Mathari lahir pada 12 Oktober 1967. Dulunya ia adalah seorang mahasiswa Teknik Sipil di salah satu universitas di Malang. Namun sebuah kejadian membuatnya memilih tidak menyelesaikan kuliahnya dan menjadi titik balik dalam hidupnya.
Suatu hari ia dan beberapa kawan pulang ke kosan setelah minum-minum. Rusdi yang merasa kepalanya pening memutuskan untuk tidur, yang tidak diketahuinya rupanya malam itu beberapa kawan datang membawa seorang perempuan.
Singkat cerita, beberapa penduduk menggerebek mereka termasuk Rusdi untuk dibawa ke kantor polisi. seorang wartawan menulis kejadian itu dengan bombastis bahwa sejumlah mahasiswa perantauan melakukan pesta seks, alkohol, dan narkoba. Rusdi yang tidak terima akan hal itu berkelahi dengan sang wartawan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi wartawan yang pantang menulis berita bohong dan tidak terburu-buru.
Setelahnya, Rusdi menjadi wartawan dan telah menulis beberapa buku. Salah satunya adalah sebuah buku yang ditulisnya ketika ia di rumah sakit, Seperti Roda Berputar. Beberapa potongan dari buku ini diterbitkan secara bertahap setiap hari senin di Mojok.co, buku ini berisikan catatan di rumah sakit.
Buku ini diawali dengan tokoh ‘Aku’ yang mengisahkan perjalanan Ali. Ia adalah seorang lelaki yang hidup berkecupukan: punya sejumlah mobil mewah, aneka sepatu, sandal jepit, kalung berlian dan sebagainya yang harganya mencapai jutaan. Suatu hari ia mendapati dirinya terkena kanker dan divonis bahwa hidupnya tersisa tujuh bulan lagi.
Namun bukan karena alasan itu kemudian ia menjadi seorang yang dermawan. Ia membagikan seluruh harta miliknya dan menyisakan satu mobil ferarri yang dianggapnya seperti sebuah kebahagiaan dan rasa syukur karena memilikinya. Awal dari sikap dermawannya ini disebabkan perenungan yang ia lakukan setelah mengunjungi makam seorang teman yang terkena tumor. Ia menyadari satu hal: hanya perbuatan baik yang akan menemanimu sampai tujuan akhirmu.
Begitulah, selanjutnya buku ini menceritakan bagaimana tokoh ‘Aku’ menjalani sisa hidupnya di rumah sakit. Ia pernah mengidap penyakit timor, wasir, dan kanker. Dari tiga penyakit yang diidapnya, penyakit kanker adalah penyakit yang menyeretnya dari rumah satu ke rumah sakit lain.
Keadaan tokoh ‘Aku’ menjadi semakin memburuk hari demi hari, terlebih lagi ia tidak memiliki cukup uang untuk untuk berobat. Beruntung di masa sakitnya ini selalu ada orang baik yang menolongnya sehingga ia bisa berobat ke rumah sakit militer. Di rumah sakit itu ia banyak mengetahui sisi lain dari rumah sakit, seperti senioritas yang terjadi di antara pekerja rumah sakit, pengguna BPJS yang diperlakukan seperti orang kere, jeritan orang-orang yang kehilangan orang tercinta, kekurangsopanan seorang dokter, ketidakberdaan sebagai seorang pasien hingga perasaan terpukul karena tidak bisa melakukan apa-apa.
###
Jujur, saya membaca buku ini dengan segenap emosi yang kuat. Kalimat-kalimat yang membunyikan rasa sakit, ketakutan, dan kehilangan adalah hal yang begitu dekat dengan saya sebagai manusia. Beberapa kali saya menjumpai perasaan itu dan buku ini cukup memukul keras saya, bahwa suatu hari kita akan ditinggalkan atau meninggalkan.
Buku ini juga menginggatkan saya dengan perjalanan kereta: saat lahir kita seperti naik kereta dengan orangtua kita. Saat itu kita yakin bahwa mereka akan bersama kita selamanya. Namun di suatu stasiun rupanya mereka turun dan meninggalkan kita meneruskan perjalanan selanjutnya. Begitupun dengan penumpang lain (anak, suami, istri, cucu). Mereka akan naik di kereta yang sama dengan kita dan mungkin saja harus berhenti suatu ketika di sebuah stasiun.
Oleh karena itu, sebelum ditinggalkan ataupun meninggalkan, sudah seharusnya kita menjadi ‘penumpang’ yang baik. Misalnya dengan memaafkan, mengasihi, dan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain maupun diri sendiri.
Adapun mengenai buku ini, saya memberikan nilai 8 dari 10. Selain mengisahkan perjalanan pribadi yang sangat membolak-balikkan emosi, di depan buku ini juga tertulis quotes yang mendalam, begini bunyinya "jangan pernah sakit. teruslah sehat dan berbahagia. sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal". hanya saja, menurut saya cover di buku ini terlalu sederhana untuk mencerita kisah seseorang yang memperjuangkan rasa sakit dan lika-liku kehidupan yang kejam.

Komentar
Posting Komentar