tempe
Salah satu makanan yang seakan menjadi menu wajib di meja makan orang Indonesia adalah tempe. Selain memiliki cita rasa yang uenak, tempe juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Seorang guru besar dari Institut Pertanian Bogor, Prof.dr.Made Astawan menyebutkan bahwa tempe mengandung zat antibakteri penyebab diare. Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas untuk menghambat proses pencernaan dan mencegah berbagai penyakit, menurunkan kolesterol hingga mengatasi hipertensi.
Sayangnya, kabar naiknya harga keledai membikin resah para pengrajin tempe dan
tahu bahkan menjadikan mereka mogok selama 3 hari. Dilansir dari detik.com harga kedelai global naik menjadi Rp 7.000 per
kilogram atau mengalami kenaikan 35%. Belum lagi ongkos untuk angkut yang
memakan waktu hingga berminggu-minggu. Dampak kejadian tersebut adalah membuat
impor kedelai yang masuk ke Indonesia turun 11,5% menjadi hanya 2,3 ton. Harga
kedelai pun akhirnya naik menjadi 37% dibanding tahun sebelumnya menjadi
sekitar Rp 8.300-9200 per kilogram, untuk jenis kedelai GMO impor grade-1.
Padahal seperti yang kita akui, tempe merupakan satu-satunya makanan bergizi yang sesuai dengan isi dompet. Tempe adalah kebahagiaan rakyat kere macam antum :v yang bisa dinikmati dengan berbagai kreativitas. Bisa diolah menjadi mendoan, ditumis dengan kangkung atau digoreng langsung.
Tempe bahkan menjadi saksi mata perjalanan hidup orang-orang kecil. Misalnya menjadi teman kumpul bapak-bapak yang sedang berjaga di pos kampling, teman ngobrol para driver ojol yang istirahat setelah menarik, teman kerja para petani yang menyenangkan di tengah panasnya pematang sawah, hingga menjadi satu-satunya berkah tersendiri untuk mahasiswa rantau setiap akhir bulannya.
Lalu bagaimanakah jika harga keledai menjadi naik seperti ini?
Seharusnya ketersediaan kedelai lokal untuk memenuhi kebutuhan nasional sudah dilakukan sejak dulu. Ketergantungan kita dengan negara-negara lain hanya akan merugikan diri sendiri. Salah satu dari kerugian atau kelemahannya adalah seperti fenomena kenaikan harga kedelai saat ini. Banyak pengrajin tempe dan tahu yang merasa terbebani.
Selain itu, masyarakat juga perlu diberikan edukasi mengenai bercocok tanam. Hal ini diperlukan agar kualitas bercocok tanam kita juga dapat menyaingi negara lain.

Komentar
Posting Komentar