Saksi Mata: Melawan Pembungkaman
Judul buku: Saksi Mata
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Mizan Digital Publishing
Seno Gumira Ajidarma merupakan salah satu sastrawan Indonesia. Setelah lulus dari SMP ia pernah melakukan pengembaraan selama 3 bulan di Jawa Barat lalu Sumatera, hingga menjadi buruh pabrik kerupuk di Medan.
Ia mulai senang menulis setelah bertemu puisi-puisi karya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung. Seno remaja menjadi aktif memproduksi tulisan dan namanya semakin terkenal semenjak dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen).
Pada cerpen Saksi Mata dikisahkan, seorang pemuda yang menjadi saksi mata untuk sebuah kasus. Hanya saja mata dari pemuda tersebut baru saja dicongkel. Saat ke pengadilan dirinya bahkan membanjiri seluruh ruangan dengan darah yang masih menetes dari matanya.
Ironinya, tidak seorang pun menyadari bahwa darah sang saksi mata telah membanjiri seluruh kota. Semua orang sebenarnya menaruh perhatian pada si saksi mata, namun entah bagaimana darah yang amis di depan mata menjadi luput.
###
Entah mengapa ketika membaca antalogi cerpen ini saya teingat dengan buku Seno yang berjudul “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Berbicara.” Saya banyak menemukan bentuk-bentuk perlawan pembungkaman pada 16 cerpen yang tersaji.
Khususnya pada cerpen yang berjudul Saksi Mata. Meskipun Seno mengatakan bahwa ia menulis cerpen ini untuk mengejar kualitas sastra, namun tidak bisa dipungkiri isi dari cerpen tersebut mengandung sarkasme dan penyuaraan ketidakadilan.
Jika dikaitan dengan tahun produksi cerpen ini yakni, 1992. Tulisan ini sepertinya merefleksikan keadaan yang tejadi di masyarakat pada orde baru. Di mana pemerintahan pada orde baru identik dengan renzim yang otoriter, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan negara.
Melalui tokoh Saksi Mata, Seno sepertinya berharap pengadilan bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan. Pengadilan sebagai wakil negara yang masih berwibawa tinggi di mata masyarakatnya.
###
Selain kesenangan saya tehadap cerpen, alasan lain membaca buku ini adalah fakta bahwa buku ini pernah menerima Penghargaan Penulisan Karya Sastra pada tahun 1995 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia.
Buku ini memiliki gaya kepenulisan yang ringan dan juga tedapat footnote untuk beberapa istilah asing sehingga pembaca dapat membaca footnote teseut jika tidak memahami makna dari ungkapan yang ditulis oleh penulis.
Hanya saja, keterangan dari footnote ini berada di akhir bab. Hal ini saya rasa membuat kurang nyaman jika harus membuka di halaman akhir bab, saya berharap di cetakan berikutnya keterangan footnote tersebut akan diletaknya di bawah (di halaman yang sama).

Komentar
Posting Komentar