Kita Adalah Manusia yang Mengantri Pulang
Judul: Bukan Pasar Malam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Jumlah Halaman: 108
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 februari 1925. Ayahnya merupakan guru nasionalis, sedangkan ibunya berasal dari keluarga ningrat. Sejak kecil Pram telah memiliki bakat menulis dan mulai berkarir menjadi juru ketik Kantor Berita Jepang Domei pada 1942-1945.
Bukan Pasar Malam merupakan novel karya Pram yang diterbitkan pada tahun 1951 oleh Balai Pustaka dan dinyatakan sebagai bacaan terlarang pada tahun 1965 sampai penerbit lain menerbitkan ulang buku ini. Kemungkinan, alasan dibalik dilarangnya buku ini didasari isi dari tulisan yang merupakan kritikan terhadap pemerintah karena dirasa tidak berpihak pada rakyat namun hanya berlomba-lomba ingin memperkaya diri sendiri.
Hal ini dikisahkan Pram dalam buku ini secara halus melalui tokoh ‘bapak.’ Dikisahkan seorang pemuda mendapat kabar bahwa sang bapak sedang sakit. Bersama istrinya ia pun pulang ke Blora untuk menjenguknya. Sang bapak rupanya terkena penyakit TBC yang cukup parah. Pemuda tersebut dan saudara-saudaranya pun harus merawat beliau hingga beberapa hari lamanya.
Pada masa ‘merawat’ sang ayah, pemuda tersebut banyak berbincang-bincang dan mengenang kembali sosok sang bapak yang pernah menjadi pemimpin perang gerilya, guru yang hebat, dan politikus. Salah satu hal yang meyayat hatinya adalah bagaimana perjuangan sang bapak rupanya tidak pernah dibalas dengan benar. Sang bapak belum digaji hampir setengah tahun selama ia menjadi guru dan perjuangan sang bapak membantu meraih kemerdekaan hanya menjadikan beberapa oknum berusaha berebut gedung dan kursi.
###
Di antara beberapa buku Pram yang sudah saya baca, jujur buku ini adalah buku paling tipis dan pemahamannya paling mudah. Kisah antara bapak dan anak ini beberapa kali membuat saya terenyuh.
Terlebih dengan sosok bapak yang digambarkan selalu tersenyum meski tengah merasakan sakit. Hal ini mengingatkan saya dengan perkataan Kang Maman, “Anakku ayah memang tidak mengandungmu namun darahku mengalir dalam darahmu, namanya melekat di namamu. Memang ayah tidak melahirkanmu, memang ayah tidak menyusuimu namun dari setiap tetesan keringatnyalah semua air susu yang kau minum itu. Anak, memang ayah tidak menjagamu setiap saat namun namamu dalam setiap doaku.”
Sosok orang tua yang digambarkan Pram setidaknya membuat saya merasakan kehangatan, ketulusan, dan perjuangan manusia untuk orang-orang yang mereka cintai. Berpesan bahwa selagi masih ada maka jangan menyia-nyiakannya. Karena hidup kita bukan seperti pasar malam yang datang berbondong-bondong dan pergi beramai-ramai.
"di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. seseorang-seorang mereka datang. seseorang-seseorang mereka pergi. dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu nyawanya terbang entah ke mana." -Pram.
###
Saya sangat menyayangkan bahwa ejaan dalam penulisan di buku yang saya baca ini belum disesuaikan. Hal ini bisa saja membuat pembaca malas karena harus ‘membaca dengan teliti’ kata pada setiap kalimat. Bahkan jika orang yang membacanya belum pernah melihat tulisan semacam ini bisa saja orang tersebut tidak bisa membacanya.
Namun terlepas dari hal itu saya menyukai alur yang dibawa penulis. Buku ini memiliki pembahasan yang ringat dan cocok untuk dijadikan teman di sore hari bersama secangkir teh dan roti.

Komentar
Posting Komentar