Kawal Terus Ekosistem Kopi

 

Kopi merupakan muniman yang sudah dikenal dengan berbagai manfaatnya: Menemani nongkrong, dijadikan objek foto, membikin mood dan semangat naik, ataupun manfaat perihal kesehatan dan kecantikan yang banyak kita temui di artikel-artikel.

 

Hanya saja, pandemi telah menjadikan petani kopi gelisah dan khawatir. Mereka tidak lancar menjual kopi. Dilaporkan, bisnis kopi global dan dalam negeri menurun 50-90 persen pada tahun 2020. Keadaan ini menyebabkan kopi menumpuk di gudang daerah meskipun tahun ini produksi kopi menurun sekitar 35 persen jika dibadingkan dengan tahun sebelumnya.

 

Di sisi lain, para pemburu rente seakan tidak perduli dengan masalah sekitar. Mereka memilih mengimpor kopi pada saat produksi kopi di dalam negeri sebenarnya mencukupi. Pada tahun 2011, impor kopi sekitar 18.000 ton dan kemudian tahun 2018 impor kopi mencapai 78.800 ton.

 

Situasi ini menjadikan sebagian beberapa dari kita berada dalam situasi yang sulit. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan petani, industri, dan juga barista, seperti Barista Asuh, Belift Dogiyai dan #SatuDalamKopi.

 

Namun di luar upaya itu, sepertinya ekosistem kopi masih perlu melakukan sesuatu agar merka bisa menghadapi situasi yang berat ini. Bentuk baru dari solidaritas, baik dari konsumen, industri, maupun petani perlu dimunculkan di masa pandemi yang sudah berumur setahun lebih. Upaya baru dengan visi, bentuk, dan cara yang baru pula.

 

Selain itu, belajar dari berbagai kasus bisnis baik di dalam negeri maupun luar negeri, saat menghadapi tantangan pandemi, pembaharuan adalah kunci agar ekosistem kopi selamat. Pembaharuan bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti memperkuat kanal digital, mengubah ukuran produk, membuat produk turunan, dan mengubah cara penjualan. Semua berujung pada kemampuan merka memahami perbahan konsumen.

Komentar

Postingan Populer