Setidaknya prinsip menjadikan kita menjadi diri sendiri

Judul: A Man Called Ove
Penulis: Fredrik Backman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Halaman: 440
Tahun terbit: 2014
Penerbit: Noura Books

Fredrik Backman adalah seorang kolumnis, blogger dan penulis asal Swedia. Ia debut sebagai seorang novelis pada tahun 2012 dengan buku A Man Called Ove. Tokoh utama novel pertamanya ini lahir dalam blog-nya. Di sana, lebih dari 1.000 pembaca meminta Backman agar menulis novel mengenai Ove.

Dikisahkan, Ove adalah seorang lelaki yang temperamental, anti sosial, dan keras kepala. Ia tidak segan memberi umpatan kepada orang yang tidak disukainya. Meskipun begitu, ia memiliki prinsip yang kuat, rutinitas yang ketat, dan hati yang hangat.

Suatu hari ia mendapati dirinya telah mengalami ‘kematian’ karena kepergian istri tercintanya. Ia pun bertekat untuk menghakhiri hidupnya dan menyusul sang istri. Hanya saja, rencananya untuk bunuh diri selalu digagalkan oleh hal-hal yang membuatnya jengkel. Seperti kejadian pagi itu.

Ove telah menyiapkan senapan untuk menembak kepalanya. Namun gedoran pada pintu rumahnya membuatnya jengkel dan terpaksa menghampiri tamu tidak diundang. Di sana berdiri Parvaneh, tetangga Ove dan menyerahkan ponselnya. “Ada telpon untukmu,” katanya.

Ove sebenernya memang tidak pernah akrab dengan tetangganya. Namun mereka tentu saja tidak bisa menghindar untuk berinteraksi dan saling berkomunikasi. Kedatangan tetangga barunya memberikan warna baru bagi Ove. Kehidupannya pun selalu dipenuhi oleh kejutan.

###

Jujur saya menyukai pengambaran penulis terhadap karakter Ove. Dia memiliki prinsip “Talk less do more.” Tidak sekalipun ia membiarkan dirinya menjadi beban maupun sampah bagi orang lain. Ove selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik dan tidak berniat untuk mengurusi permasalahan orang lain.

Kekokohan prinsip Ove itulah yang membuat saya kagum. Meskipun dalam cerita tersebut seakan-akan pembaca menilai bahwa prinsip Ove telah membuatnya repot (atau mungkin menyengsarakan seperti kasus pencurian uang yang menyeret nama Ove) namun setidaknya prinsip tersebut menjadikan Ove menjadi ‘dirinya sendiri.’ Ove tidak dibawa arus dan memiliki pendirian yang kuat.

Di sisi lain, sifat Ove yang saya sukai adalah memiliki hati yang hangat. Hal ini terbukti dengan sikap-sikap yang dia berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Ia tetap mengulurkan bantuan meskipun kepada orang yang tidak ia kenal.

Jika berkaca dengan keadaan sekarang ini, sangatlah kecil orang yang bersedia membantu orang tidak dikenal. Daripada kasihan orang-orang cenderung mencurigai orang di sekitanya dengan berbagai prasangka. Menurut saya, sifat Ove yang berhati hangat ini bisa menjadikan kita untuk lebih memberi perhatian kepada sekitar kita.

###

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Banyak sekali pelajaran moral yang dapat kita ambil. Penulis seakan menulis sosok Ove ini untuk dijadikan refleksi bagi pembacanya. Hanya saja, menurut saya pengayaan bahasa dalam buku ini terlalu bertele-tele sehingga menjadikan pembaca bosan dan kurang bergairah.

Selain itu, penulis terlalu sering menggunakan julukan untuk merujuk tokoh dalam buku. Contohnya seperti mengatakan julukan si ilalang pirang untuk gadis yang biasanya berjalan dengan seekor anjing di depan rumah Ove. Julukan seperti ini bisa saja menjadikan pembaca salah menafsirkan.

Namun terlepas dari hal itu, buku ini sangat cocok dibaca untuk mereka yang ingin bersantai dengan segelas teh di sore hari. Sampulnya yang menarik dan desain buku yang apik bisa membantu anda melepaskan stress sejenak.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer