Entrok: Lambang Feminisme
Judul: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Tahun Terbit: 2010
Halaman: 288
Penerbit: Gramedia
Okky Puspa Madasari atau yang kerap disapa Okky Madasari adalah seorang penulis Indonesia yang memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2012. Perempuan kelahiran 1984 telah aktif menulis sejak tahun 2010 hingga sekarang. Sebelumnya ia telah berkarier sebagai wartawan dan merampungkan gelar sarjana ilmu politik di UGM. Entrok adalah novel pertamanya yang lahir sebagai kegelisahan atas menipisnya toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan.
Buku ini bercerita mengenai perempuan jawa yang buta huruf dan memuja leluhur bernama Marni. Ia selalu memanjatkan doa dan mendekatkan diri kepada dewa-dewanya melalui sesajen yang ia siapkan. Sejak kecil, tidak pernah sekalipun ia mengenal Tuhan. Ia pun dianggap menyimpang dari kepercayaan kebanyakan penduduk di daerahnya.
Namun perempuan itu tidak pernah memusingkan hal tersebut. Ia merasa kepercayaannya itu tidak merugikan orang lain dan ia juga tidak pernah berbuat suatu tindak kriminal. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang.
Akan tetapi, kepercayaannya ini kelak menjadikan jarak antara dirinya dengan sang putri, Rahayu. Gadis itu adalah generasi baru yang dicetak dari sekolah dan segala kenyamanan hidup. Ia selalu mengedepankan rasional dan menjadi penganut agama yang taat. Tidak segan, ia pun melawan ibunya karena perbedaan paham antara keduanya. Bagi Rahayu Marni adalah seorang pendosa.
Tidak kuasa akan perbuatan ibunya itu, Rahayu akhirnya pergi merantau keluar kota. Perjalanan panjang dan lika-liku kedua dimulai.
###
Jujur saja, ‘entrok’ adalah kata yang asing bagi saya. Kata ini baru saya ketahui setelah membaca buku ini. Entrok berasal dari bahasa jawa kuno yang berarti pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara, atau yang akrab kita kenal dengan istilah BH atau kutang. Penggunaan kosakata yang ‘beda’ ini saya rasa tidak terlepas dari makna, kultur dan simbol. Di mana entrok sendiri sudah menjadi pakaian yang hanya dimiliki dan dipakai perempuan, sama seperti buku ini yang condong menganggkat bentuk ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Entrok menjadi lambang feminisme.
Pada buku ini banyak saya temui pelaku ketidakadilan pada perempuan. Mereka seakan menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini diwujudkan dengan perbedaan upah yang diterima antara perempuan dengan laki-laki, stereotipe ketika perempuan bekerja sebagai kuli, dan masih banyak lagi.
Ironinya, bentuk ketidakadilan ini masih kita temui hingga saat ini. Misalnya seperti stigma negatif yang melekat pada perempuan. Banyak tetangga saya yang memiliki pandangan bahwa perempuan yang senang keluar malam adalah perempuan yang tidak baik (nakal).
Selain itu, dalam buku ini banyak saya temukan bentuk intoleransi. Masyarakat condong senang menggunjingkan tetangga yang memiliki keyakinan berbeda bahkan mengatakan tetangga tersebut sebagai pendosa dan kafir. Lucunya, tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan itu sebenarnya tindakan yang mengingkari Tuhan. Mereka merasa paling benar sehingga berkuasa memberikan label kafir kepada orang lain dan melupakan Huwal haq.
###
Secara keseluruhan, pembahasan buku ini sangat menarik. Penulis mampu membawa pembaca seakan-akan mengalami sendiri kejadian tersebut. Beberapa kali bahkan saya mengumpat ketika membaca buku tersebut, turut merasakan penderitaan sang tokoh dan menyayangkan bahwa humanisme sangat tipis saat itu.
Cover buku ini pun sangat menarik, yakni sosok manusia yang sedang mengaitkan entroknya. Entrok tersebut berwarna hijau dengan bungga-bungga yang menghiasinya dan saya tafsirkan sebagai ketabahan, keinginan yang kuat, dan kecantikan. Seperti perempuan-perempuan.

Komentar
Posting Komentar