Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas: Resensi
Judul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Jumlah Halaman: 243 hal
Penerbit: PT Granmedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Mei 2014
Rasa bersalahnya menjadikan Tokek tidak akan melupakan malam itu. Awal di mana kawannya, Ajo Kawir tidak bisa ngaceng. Tokek mengajak Ajo untuk pergi ke rumah Rona Merah dan mengintip aktivitas yang sedang dikerjakan si janda gila. Namun tidak ada yang dilakukan wanita itu selain bermain-main dengan sisa makanan di lantai.
Ajo yang awalnya ingin bergegas pergi karena tidak menemukan ketertarikan ditarik kembali oleh Tokek untuk diminta menunggu dan lebih bersabar. Benar saja, hal yang diharapkan tokek terjadi. Setelah itu datang dua polisi ke rumah Rona Merah dan memperkosa wanita itu. Sayangnya, saat sedang khusus menonton kegiatan polisi tersebut, Ajo Kawir malah terpeleset dan mengagetkan kedua polisi itu.
Sementara Tokek sigap bersembunyi, Ajo ditarik oleh salah satu polisi itu dan dipaksa untuk menyaksikan kelakukan bejat mereka. Tak hanya itu, Ajo bahkan ditawari oleh mereka untuk melakukan ronde ketiga dengan si janda, namun pistol yang ditodongkan tepat di depan kemaluannya oleh polisi itu lebih menyeramkan. Sejak saat itu Ajo menyadari ia tidak lagi bisa ngaceng.
Perjalanan panjang pun dimulai. Dari keputusasaannya akan ‘burung’nya, jatuh cinta, seks, dan bagaimana akhirnya si ‘burung’ bagai seorang sufi menuntunnya menjalani hidup dengan lebih tenang dan damai di tengah-tengahnya kehidupannya yang keras, bengis, dan bruntal ini.
***
Buku ini adalah buku milik Eka yang pertama kali saya baca. Jujur saja, saya kaget dengan ‘keliaran’ dan ‘kevulgaran’ Eka dalam membawa buku ini. Namun tentu saja, mengutip kalimat Ayu Utami, penggunaan bahasa atau pilihan diksi oleh seorang penulis pastinya telah diperhitungan dengan matang oleh penulis yang bersangkutan. Karena itu menurut saya, Eka adalah salah satu penulis yang ‘berani’ menulis dengan diksi seperti ini.
Berkat itu, hal yang selama ini masih dianggap tabu dan memiliki kesan yang negatif jika dibahas bisa menjadi edukasi dan wawansan. Tulisan ini bisa pendobrak beberapa stereotype yang selama ini telah mengakar di masyarakat. Hanya saja, sebab itu juga saya rasa buku ini tidak bisa dibaca oleh semua kalangan. Pembaca haruslah bijak dalam mengambil hikmah dan pesan yang terkandung.

Komentar
Posting Komentar