Rensensi: Dari Ngaliyan ke Sendowo
sumber foto: Goodreads
Pada Mei 2005, untuk pertama kalinya buku Dari Ngaliyan ke Sendowo diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Buku ini menceritakan menegani kehidupan Nh. Dini semasa ia tinggal di Ngaliyan (Semarang) hingga kepindahannya ke Sendowo (Yogyakarta). Di usianya yang tidak lagi muda, perempuan kelahiran semarang 29 Februari 1936 itu tetap aktif mengarang, mengelola pondok baca, memelihara tanaman, dan menjadi anggota rotary club.
”Keseharianku di Semarang, mengelola Pondok Baca, mengarang, memelihara tanaman hias, dan menjadi anggota Rotary Club Semarang,” (hal. 4)
Salah satu kisah favorit saya dalam buku ini adalah ketika Dini dengan percaya diri tetap mengunakan sepeda milik sang ayah untuk pergi ke sekolah. Saat itu ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar becak, ia pun mematuhi saran ibunya untuk menggunakan ‘sepeda laki-laki’ milik sang ayah meskipun beberapa temannya mengejeknya dengan kata ‘banci’. Keadaan yang seakan-akan mengatakan ‘sepeda laki-laki’ hanya untuk para kaum adam.
Dini memang dikenal sebagai salah satu tokoh feminisme yang banyak menyuarakan hak-hak perempuan lewat karya-karya. Ia banyak mengungkap pikiran, perasaan, dan semacam pelampiasan hati dalam tulisannya mengenai isu kesetaraan gender. Bahkan pada tahun 2017 lalu kumparan.com meliris ‘lima penulis feminis dari masa ke masa’ dan Nh. Dini menduduki peringkat pertama dengan alasan bahwa perempuan dengan nama panjang Nurhayati Sri Hardini ini telah menjadi pelopor penulis feminis dalam sastra Indonesia modern.
Selain itu, dalam buku dengan tebal 268 halaman ini Nh. Dini juga sering memaparkan mengenai sejarah dari tempat-tempat yang ia singgahi. Mulai dari sejarah dari daerah-daerah di dalam negeri hingga yang berada di luar negeri. Dini pun tidak sungkan-sungkan untuk menceletukkan hal-hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan hatinya. Ia perempuan yang berani dan keren.
Hanya saja, karena ini merupakan buku autobiografi maka sangat besar kemungkinan pembaca akan merasa jenuh.

Komentar
Posting Komentar