cerpen: R a k a

Oleh: Ulul Faricha Luqman

”Dimana Tuhan?”

Rasanya begitu lucu jika mengenang pertemuan pertama kami, pasalnya pertanyaan itulah yang ia lontarkan kepadaku secara tiba-tiba. Meskipun sedikit terasa janggal, namun kujawab juga bahwa aku tidak tahu, keberadaan Tuhan tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Akan tetapi ia memaksa, lelaki yang menyebut dirinya dengan nama Raka itu memintaku memberi jawaban yang lebih jelas. Aku menjawab Dia di Arsy, namun Raka mengatakan Tuhan tidak mungkin terikat dengan materi Dia ciptakan sendiri. Aku menjawab Tuhan ada dimana-mana dan ia menjawab kalau begitu akan ada banyak Tuhan.

Bahasan itu tidak dilanjutkan. Ia tersenyum melihatku yang tidak lagi dapat membalas kata-katanya. Entalah, dia lelaki yang tidak bisa ditebak, dipenjara oleh kerumitannya sendiri, dan tanpa kusadari telah membuatku jatuh hati. Setiap hari ia akan datang menanyakan hal yang berbeda padaku, membuatku ikut larut dalam kerumitannya yang tidak kunjung menemui benang.

Rabu kelabu. Hujan yang turun hari ini rupanya tidak menghalanginya untuk kembali berkunjung ke rumahku. Sepiring ketela rebus dan segelas kopi aku hidangkan untuknya. Terkadang, terpikir olehku bahwa ia sering datang dan bertanya macam-macam karena menginginkan kopi gratis buatanku. Ah, bukannya apa. Hanya saja, kata bapak, kopi buatanku adalah yang paling enak, semua orang tidak akan bisa mengkhianati kelezatannya.

”Dimana bapakmu?,” tanyanya.

”Ada di dalam. Mau kupanggilkan?”

  ”Iya.”

Aku masuk ke dalam memanggil bapak sekalian membawa papan catur, karena selain rokok dan kopi, urusan kedua lelaki itu untuk duduk di meja yang sama adalah permainan catur. Kata bapak, bagi mereka permainan catur bukan hanya sebuah olahraga, tetapi juga seni dan spirit. Tidak mengherankan, aku sering melihat mereka saling tenggelam ketika memainkannya.

”Sebentar Sa,” kata Raka menghentikan langkahku untuk masuk ke dalam.

Aku kembali duduk di samping bapak dan menatapnya dengan sabar, menunggu hal yang ingin dikatakannya. Ketika itu aku seketika menyadari: hari ini pakaiannya lebih rapi dan rambut gondrong yang biasanya diikat asal juga dicepolnya dengan manis. Tapi lelaki itu memang selalu manis sih.  

”Sepertinya hari ini kamu lebih rapi,” kata bapak yang rupanya juga menyadari kebiasaan Raka.

Pipi pria itu tersipu merah. Dia tidak terlihat seperti pria yang selama ini aku kenal, apa benar pipi merahnya itu sebab pujian yang diberikan bapak? Atau karena ia tidak enak badan? Tiba-tiba aku merasa cemas dengan keadaan Raka. Seharusnya tadi kubuatkan teh jahe saja, dia pasti tidak enak badan karena terkena hujan. 

”Apa perlu kubuatkan teh jahe?” tanyaku menatapnya khawatir.

”Kenapa?”

Aku diam. Wajahnya seakan-akan mengisyaratkan bahwa ia sedang tersinggung dengan perkataanku. Bukankah rasa sakit itu manusiawi? Aku tidak paham dengan jalan pikirnya. Apa dia tidak menyukai perhatian dan kebaikkan dari seorang perempuan?

”Dia bukan pria lemah Sa, masa kamu tidak peka. Jangan membuat malu bapak,” kata bapak mengejek. Aku lupa ia memang tidak suka dibelaskasihani, tapi aku memang khawatir dengan keadaannya. Sekarang saja wajahnya semakin memerah.

”Dia sendiri juga tidak peka aku perempuan seperti apa,” kataku merajuk.

”Sudah, sudah. Jadi sekarang kamu mau bicara apa sampai meminta Salsa ikut mendengarkan?” tanya bapak serius.

”Sebenarnya ini juga mengenai Salsa, makanya saya minta Salsa juga mendengarkan apa yang ingin saya utarakan.”

Ia menatapku sebentar dan menghembuskan nafas berat. Kulihat sebuah lukisan dikeluarkannya dari tas yang sedari tadi ia pakai. Lukisan itu adalah gambar mediang Ki Seno Nugroho. Beliau seorang seniman dan dalang wayang kulit asal Yogyakarta yang semalam baru menghembuskan nafasnya terakhirnya. Dia adalah idola Raka, pria itu pasti sangat terpukul. 

foto: @AlfinRizal

”Lukisan ini sebenarnya ingin saya hadiahkan untuk beliau pada ulang tahunnya di bulan agustus lalu. Namun beliau menolak dan mengatakan bahwa lukisan ini suatu saat akan menemukan rumahnya sendiri. Saya, saya ingin Salsa menjadi rumah untuk lukisan ini dan rumah untuk saya kembali.”

Saat itu lah aku tahu, ternyata kami memiliki perasaan yang sama. Raka, pria itu sekarang sedang melamarku.     

Komentar

Postingan Populer