cerpen: Antara Dua Tetua
Oleh: Ulul Faricha Luqman
Bagi desa kami, pertentangan antara dua kaum tua bukanlah sebuah berita yang baru. Kebiasaan ini telah dibawa sejak pendahulu kami dan diturunkan dari generasi ke generasi kepada cucu-cucu mereka. Meskipun begitu, bukan berarti setiap orang di desa kami mengerti permasalahan ini, beberapa orang memilih tidak mau mengambil pusing dan menempatkan diri mereka pada posisi ‘netral’ (yang sebenarnya tidak bisa dibilang begitu juga).
Beberapa hari ini perselelisihan antara kaum tua mendebatkan mengenai wabah pandemi. Semua orang tiba-tiba berkumpul di balai desa karena teriakan mereka yang begitu keras dan tidak mau mengalah. Mereka memegang teguh keyakinan masing-masing.
“Pandemi ini tidak akan berakhir dan akan terus memakan korban jika kita tidak mengadakan sedekah alam. Ini adalah karma alam,” kata tetua kaum selatan.
“Lalu apa yang mau kau lakukan? Menyembelih kambing dan menaruh bunga di bawah pohon besar. Tidak bisakah kalian belajar dari kejadian yang sudah-sudah? Itu hanya akan membuang-buang uang dan menghabiskan tenaga. Dulu kau bilang jika kita memberi sesajen kepada penghuni sungai maka jembatan itu tidak akan roboh dan senantiasa bisa menjaga keselamatan orang yang menyebrang, namun beberapa tahun kemudian jembatan itu tetap rusak,” balas tetua kaum utara.
“Sudah kubilang, itu karena kita terlalu memandang duniawi sehingga merasa hebat sendiri, tidak bersyukur dan menggunakan jembatan itu untuk hal-hal yang tidak baik seperti bunuh diri. Rusaknya jembatan itu sebagai peringatan bahwa manusia harus kembali memperbaiki perangai mereka.”
“Jadi maksudmu sesajen kedua yang kau minta warga melakukannya adalah bentuk rasa penyesalan dan permintaan maaf? Kau pikir si sungai, jembatan hingga pohon besarlah memberi manusia pengampunan dan nasib baik. Asal kau tahu saja, jembatan itu tidak akan menjadi jembatan kalo tidak ada kerja manusia. Pohon itu tidak akan jadi pohon kalo dia tidak dibantu tanah dan hujan. Mereka juga makhluk bukan dewa, bukan Tuhan kang, jangan sampean memberi data yang tidak-tidak,” kata tetua kaum utara yang membuat beberapa warga berbisik-bisik.
Seorang anggota dari kelompok selatan yang tersulut emosi mendadak mencoba menyerang tetua kelompok utara dengan golok serta berteriak bahwa tidak sebaiknya tetua kelompok utara bertindak menghakimi seperti itu, terlebih lagi mengatakannya secara terang-terangan di depan umum. “Kau juga bukan Tuhan. Apakah kau merasa memiliki kuasa untuk mengatakan mana yang benar? Dasar tidak memiliki adab,” tambahnya dengan mata merah. Beruntungan beberapa warga dengan sigap menahan pria itu dan menariknya keluar dari kerumunan.
Perdebatan semakin memanas. Aku sendiri merasakan bulu kudukku ikut berdiri dan panas dingin. Tapi tunggu-- ah, iya. Aku baru menyadari bahwa selepas bermain hujan kemarin badanku memang kurang nyaman. Sepertinya aku akan demam. Tapi kejadian seperti ini tidak boleh untuk ditinggal. Maksudku ditakutkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Aku memberi data yang benar,” bantah tetua selatan. “coba kau lihat manusia yang terus melakukan segara cara yang katanya untuk membuat hidup mereka lebih nyaman. Tidak cukup pakai dipan mereka membuat kasur, tidak cukup pakai kipas mereka membuat kipas angin lalu beberapa saat kemudian disusul membuat AC (air conditioner). Apa aku salah jika menyebut manusia kurang bersyukur? Bahkan hidup yang sebenarnya cukup dijalani dengan penuh syukur malah masih memilih mengakhiri hidup. Semua sebenarnya sesimpel itu. Mereka saja yang termakan oleh ambisi.”
Cukup dijalani dengan penuh syukur—semua sebenarnya sesimpel itu. Entah bagaimana perkataan tetua selatan tergiang-ngiang di kepalaku. Seketika itu pula perkataan salah seorang guru ikut berdialog dalam pikiranku: salah satu tokoh filsuf bernama Diogenes pernah mengatakan bahwa ‘We have complicated every simple gift of God’. Penyakit manusia yang sebenarnya adalah mereka terlalu membuat rumit dan ruwet apa yang dianugrahkan Tuhan. Sebagai contoh untuk aturan makan terdapat cara sendok, garbu, pisau, dan tisu, padahal menggunakan tanganpun cukup.
“begitukah? Apa dalam pengertian lain manusia harus menerima takdir? Tidak bisa neko-neko. Hahaha,” tawa tetua utara membuat kedua bahu lebarnya naik-turun. “jangan munafik sampean kang, dari dulu berkoar-koar jika ada kejadian ini maka harus ini, jika ada musibah ini maka harus begitu. Bukankah itu juga tindakan yang menerima takdir? Jika memang menerima takdir harusnya ya cukup bersyukur dan tidak neko-neko.”
“Lagian,” lanjut tetua utara. “menerima takdir hanya menjadikan manusia bermental budak. Apa-apa diterima dengan lapang. Memangnya Tuhan tidak pernah meminta hamba-Nya untuk berusaha dan memanfaatkan apa yang Dia beri? Ah, aku tahu. Jangan-jangan melakukan sebuah tradisi dari nenek moyang adalah bentuk dari penerimaan takdir. Sehingga seseorang tidak mau memikirkan apakah itu memang sudah tepat atau belum.”
“Siapa yang kau maksud?” Tanya tetua selatan. Tanpa ia sadari dirinya telah menaikkan volume suara. Pria tua itu terlihat sedang tersinggung.
“Tidak ada.”
Wajah para tetua seperti kepiting rebus. Semua saling diam hanya menyaksikan. Bahkan angin sore seakan-akan tidak berani lewat di antara ketegangan yang semakin sulit. Sepupuku yang berdiri di samping kananku berkali-kali menyenggol: menjagak untuk pergi. Tapi di situasi yang seperti ini siapa yang berani bergerak?
Namun rupanya aku benar tidak tahan lagi. Kini, semua orang menatapku dengan wajah khawatir mereka. --Aku pingsan, entah apakah mereka masih memperdulikan apa yang mereka perdebatan daripada keadaan bocah yang malang ini.

Komentar
Posting Komentar