cerpen: Toko yang Menjual Kebahagiaan
Katakanlah menjadi sedih adalah hal yang menyenangkan, maka aku ingin menjadi orang yang sedih untuk selamanya. Menanggisi hal yang tidak perlu ditangisi hanya untuk kesedihan.
Tapi sayangnya tidak, semua orang tahu hal yang menyenangkan hati adalah kebahagiaan. Semua orang berlomba-lomba mendapatkan kebahagiaan sekalipun dengan cara yang mengerikan. Malahan, mereka seringkali masih tidak puas dengan kebahagiaan itu. Karena ini, akhirnya kuputuskan untuk membuka sebuah toko yang menjual kebahagiaan.
Orang-orang tidak perlu lagi menciptakan kebahagiaannya dengan menyakiti orang lain atau melakukan suatu hal. Mereka cukup membeli kebahagiaan dariku dan dapat menikmatinya tanpa takut untuk diambil orang lain. Namun meski begitu kebahagiaan yang kujual juga memiliki batas waktu. Seperti kuota internet, mereka akan cepat habis ketika terlalu sering digunakan.
Toko itu akan aku beri nama ‘duka’, nama yang telah aku siapkan jauh-jauh hari sebagai alasan mengapa orang harus datang ke tokoku. Namun akhir-akhir ini aku sedikit sebal karena toko ini menjadi sangat ramai sehingga mengharuskan untuk membuka cabang baru. Hari-hariku menjadi repot karena ini.
Selang beberapa hari ternyata jumlah pembeli di tokoku semakin banyak, namaku jadi terkenal dan mulai banyak investor yang ingin bergabung. Tentu saja aku tidak senang karena itu hanya akan merepotkanku, semua prilakuku akan menjadi sorotan publik dan ke depannya pasti banyak sekali bahaya dan ancaman.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian karena aku menolak orang-orang yang ingin bekerja sama denganku hampir setiap hari ada teror dan ancaman. Parahnya ini bukan ditujukan kepadaku tetapi pada keluargaku, temanku bahkan karyawanku. Hal yang kian membuatku stress dan menutup sementara toko. Aku harus memikirkan jalan keluar untuk ini.
Dalam masa ‘libur’ ini aku menghabiskan waktu dengan mengurung diri di rumah. Bukan bermaksud menjadi pengecut tapi aku benar-benar tidak paham lagi dengan orang-orang yang ingin bersikeras bekerja sama denganku. Aku sudah melaporkan teror dan ancaman ini kepada polisi setelah menyeliki secara diam-diam. Namun belum ada laporan sama sekali kepadaku. Mencurigakan.
Dan untuk itu aku ingin kembali menyelidiki permasalahan ini. Hal yang kemudian aku sesali karena menjadi lenggah menjaga keluargaku. Sepupuku dibunuh secara sadis di gudang rumahku. Terdapat seratus tusukan pisau dalam tubuhnya, mata kanannya ditusuk dengan empat paku berkarat, rambut kribonya terbakar dan kaki kirinya hilang.
Seminggu setelah hari berkebung ternyata aku mendapat ancaman lagi. Namun kali ini dari para pembeli yang merasa kecewa dengan kinerja tokoku. Kami (aku dan segenap karyawan) seakan-akan menghilang ketika mereka sudah memberikan kepercayaan. Bahkan mereka memasang sebuah banner besar di depan rumah. Omongannya mirip parfum isi ualng: wangi tapi palsu. Jangan memberi janji saja. Buka kembali toko Duka!! Kami butuh kebahagiaan.
Entahlah, daripada menjadi seorang pengusaha aku lebih merasa seperti seorang aparatur sipil Negara yang menebar janji-janji manis. Para pembeli benar-benar seperti sedang berdemo menuntut keadilan.
Dalam satu sisi aku memaklumi hal itu karena sejak toko duka dibuka banyak orang mulai merasa kebergantungan. Mereka memasrahkan kebahagiaan mereka sepenuhnya kepada toko. Lucunya, sejak itu pula aku dipusingkan memberikan mereka kebahagiaan dan aku sendiri tidak sempat memikirkan mengenai kebahagiaanku.
Akhirnya aku pasrah. Kupikir dengan membuka toko yang menjual kebahagiaan aku akan membantu orang-orang untuk bahagia secara instan. Namun sekarang segala hal yang kulakukan ternyata hanya menyiksa orang-orang itu termasuk aku.
Aku ingin mati saja. Ya aku mengakhiri hidupku malam ini dengan mengonsumsi kebahagiaan sebanyak-banyaknya. Aku mati karena overdosis kebahagiaan. Mengerikan yang menyenangkan.
Nganjuk, 11 september 2020
Ulul Faricha L

Amazing 👏👏Sungguh aku tidak tau harus tertawa atau bersedih🤣😭 humor yg menyedihkan😔
BalasHapus