Celoteh: Kesadaran Baru
Oleh: Ulul Faricha Luqman
Baru-baru ini earphone milik sepupuku hilang, dia mengeluh sepanjang hari karena earphone itu ternyata milik teman abang tertuanya. Seingat gadis itu, terakhir kali ia memakainya adalah selepas magrib dua hari yang lalu di kamarku. Namun hingga kami mencari ke ruang tamu earphone itu belum juga ditemukan.
Baru-baru ini earphone milik sepupuku hilang, dia mengeluh sepanjang hari karena earphone itu ternyata milik teman abang tertuanya. Seingat gadis itu, terakhir kali ia memakainya adalah selepas magrib dua hari yang lalu di kamarku. Namun hingga kami mencari ke ruang tamu earphone itu belum juga ditemukan.
“Gimana donk, Cha. Temen abang lagi nungguin di luar. Dia minta earphonenya,” Tanya sepupuku berulang kali.
Akhirnya karena sepupuku tidak berani, aku pun jadi. Gadis itu meminta tolong padaku untuk menjelaskan pada teman abangnya.
“Hmm… begini, bang. Aku mau ngomong. Tapi–,”
“Penting?” potongnya.
“Penting! Penting!” jawabku buru-buru. “tapi, tapi abang jangan marah ya?”
“Ya tergantung.”
Aduhh, kenapa jadi nyesel ya udah berani nekat. Pantesan tuh bocah nggak mau, temen abangnya kaku gini sih, batinku.
“Jadi gini, earphone abang hilang. Kami udah coba cari kemana-mana, tapi nggak ada. Minta maaf ya bang.”
“Iya.”
Hah?
“Kalian kalo panik kayak orang jualan di pasar. Jadi udah kedengeran,” katanya seolah-olah memahami keterkejutanku. Mendengar itu aku menyambutnya dengan tawa garing. Padahal udah dag dig dug dan gelisah sendiri.
“Sampek kapan di rumah? apa udah mau balik?”tanyanya tiba-tiba.
“Eh? Apanya bang? Ke kampus?”
Laki-laki itu mengangguk-angguk, lalu aku bercerita kebijakan kampus selama pandemi ini hingga kabar terbaru mengenai skenario persiapan new normal. Dari situ kami membahas banyak dilema dunia pendidikan menghadapi sistem pembelajaran.
“Bukan new normal yang penting, tetapi bentuk ‘kesadaran baru’ dari bagaimana paradigma kita memandang dunia, atau ada minsed yang berbeda pasca pandemi. Kesadaran itu bisa personal, sosial, juga struktural. Jika kesadaran itu berbentuk personal maka hanya akan menjadi selera dan kebiasaan individu: seperti di jamban, ada yang masih suka jongkok dan ada yang sudah terbiasa duduk.”
“Jadi kesadaran baru seharusnya menjadi aktivisme sosial, bang?” tanyaku.
“Kurang lebih. Dan jika tidak ada kesadaran baru, semua yang terjadi hari ini hanya fashion. Ibarat masker dengan desain bermacam-macam itu. Lebih penting desain dan model maskernya, daripada standar kesehatan dari masker itu. Semua akan lewat begitu saja. Kebijakan new normal hanya selebrasi,” kata lelaki itu dan mengambil putung rokok untuk kali ketiga.
“Bang Wawan! Earphonenya udah ketemu.”
Kami berdua sama-sama menoleh.
Di sana berdiri sepupuku. Memamerkan earphone kuning dan senyum lebarnya.

Komentar
Posting Komentar