Kakek (2)

Hari ini tumben sekali sepupuku menyetujui acara Tv pilihan kakek, bahkan ia terlihat antusias sampai duduk tepat di depan Tv. Aku sendiri karena merasa kelakukan sepupuku kali ini lain dari biasanya akhirnya turut duduk di samping kakek. kami bertiga khusuk menyimak penjelasan yang dikatakan oleh pembawa berita.  

“kasihan, pelakunya dicari dari 2017 baru ketemu 2020,” komentarku membuka suara.

“Dih, itu kan pencariannya lama karena disengaja. Apalagi semakin lama proses penyelidikan itu bakal semakin kecil kemungkinan kasus itu untuk selesai,” sahut sepupuku.

“Huss, nggak boleh su’udhon.”

“La iya, Orang penyidiknya aja ganti setelah tiga bulan berjalan, penyidik pertama udah nggak ambil peran lagi. Apalagi begitu ketemu pelakunya cuman dihukum setahun, gimana mau nggak su’dhon coba, iya kan kek?” sepupuku menoleh pada kakek.

Pria tua itu seketika menghemuskan nafas berat, dari gurat wajahnya aku bisa merasakan bahwa dia sedang kesal? Aku segera memijat pelan lengan kakek dan melototi sepupuku karena sepertinya aku melupakan satu hal: peraturan saat menonton Tv bersama kakek adalah dilarang untuk berisik. 

Akhirnya baik aku maupun sepupuku tidak berani membuka mulut kami hingga acara itu berganti iklan dan kakek memulai dulu.

“Kasus seperti bapak ‘NB’ ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi, jauh sebelum kalian lahir tepatnya pada tahun 1996 hingga sekarang sudah 115 pegiat anti korupsi yang menerima-- ya katakanlah teror,” ucap kakek.

“Berarti ini bukan yang pertama ya kek?”

“Ya, ada berbagai kasus dengan bentuk kedhaliman yang sama. Bodohnya, kejahatan yang terjadi berulang-ulang seakan malah jadi termaklumi.”

“Apa kasus seperti ini terulang-ulang karena jarang dikritisi dan tidak pernah ditentang dengan keras kek?” tanyaku.

“Bukan hanya itu, menurut kakek juga terdapat kecacatan dalam kinerja aparatur.”

“Maksud kakek ada konstansi di balik itu?” 

Aku nyengir kuda mendengar pertanyaan sepupuku yang sepertinya salah menggunakan diksi. Dia ingin mengatakan konspirasi namun menjadi konstansi. Ya maklum, kami baru membaca materi psikologi umum pagi tadi.

“Konspirasi anjirr,” koreksiku.

“Apa?” Tanya kakek.

“Eh iya, konspirasi maksudnya kek,” ulang sepupuku.

“Bukan itu. Kamu bilang apa tadi setelah kata ‘konsprasi’?” Tanya kakek menatapku.

Aaaa, dan hal yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak aku inginkan. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer