pergolakan pemikiran islam


Judul buku : Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib
Penulis : Ahmad Wahib
Penyunting : Djohan Effendi dan Ismed Natsir
Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota IKAPI


oleh: ulul faricha luqman
Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, 9 November 1942. Ayahnya adalah seorang kiai yang memimpin pondok pesantren dan sangat disegani oleh masyarakat luas. Sekali pun begitu bukan berarti sang ayah selalu membatasi pergualan Ahmad Wahib, hal ini terbukti dari bentuk perlakuan sang ayah yang memperbolehkannya untuk menempuh pendidikan di sekolah umum bahkan kuliah di Yogyakarta.
Di Yogyakarta dia juga aktif mengikuti forum diskusi, salah satunya adalah “Lingkaran Diskusi Limited Group” dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), namun setelah itu ia memutuskan untuk keluar dari himpunan tersebut demi sebuah pengembaraan yang tiada akhir dan menulis banyak catatan mengenai hal ini.
Lalu yang dimaksud pergolakan pemikiran islam disini?
Sejauh ini kita mengenal islam dari banyak para tafsir, islam menurut  Loy Toistoy, islam menurut Abu Said Al-hasan, islam menurut Orientalis H., dan islam menurut pakar lainnya. Lalu bagaimana sebenarnya islam yang menurut Allah?
Selama ini kita hanya mengikuti islam melalui apa yang kita pelajari dari nabi. Kita tahu sebuah hukum, tata cara, dan keterangan lain dari nabi. Bahkan beberapa ketetapan lain kita comot dari apa yang dikerjakan nabi saat itu, dengan kata lain kitapun bisa meragukan juga apakah semua yang kita ambil itu masih bisa kita terapkan di zaman yang plural ini?
Mari kita perjelas dengan membicarakan sedikit mengenai kepemimpinan, hal ini menyinggung mengenai dalil “mengapa kamu mengangkat kafir menjadi menjadi pemimpin-pemimpin islam?” yang tentu tidak bisa kita telan bulat-bulat, ayat tersebut turun pada saat apa dan apa penyebabnya? Jika karena kekejian sikap orang kafir saat itu maka apakah saat ini kita juga akan menganggap orang kafir sama semacam itu? Coba kita bandingkan betapa beda kafir di zaman nabi dan di zaman sekarang.
Hal ini bukan berarti kita menentang dan mengkhianati dalil-dalil yang sudah kita imani ratusan tahun lamanya, hanya saja inilah bentuk kemerdekaan dalam berpikir dan salah satu ijtihat untuk kebaikan islam itu sendiri. Kita sedang berada pada pergolakan pemikiran islam dengan segala kebodohan yang belum juga kita sadari.
Setidaknya ada beberapa poin yang saya dapat dari catatan Ahmad Wahib perihal kebodohan kita yang belum terselesaikan. Yang pertama, orang muslim selalu merasa benar sendiri, kita menganggap agama kita yang paling benar sehingga kita sukar untuk menerima hal-hal di luar penataan islam. Hal ini kemudian mengakibatkan kerugian besar karena kita menjadi manusia yang mandeg (macet) berpikir, alias hanya mengamini ide-ide islam.
Yang kedua, orang muslim cenderung tidak berani menyatakan bahwa ada sebuah paham yang lebih baik dari islam ketika tidak ada kecocokan di antara keduanya atau berlawanan. Artinya orang islam hanya berani mengatakan suatu paham baik ketika paham itu cocok dengan islam atau minimal tidak bertentangan dengan apa yang selama ini dipelajari.
Ketiga, ketika ada sebuah kesalahan dalam penataan islam seorang muslim akan mengatakan “yang salah adalah orang islam, dan bukan islam”. Mereka tidak berani kritis pada kepercayaan mereka sendiri. Padahal ketika kita mulai meragukan suatu hal saat itulah kita akan mencoba untuk mencari kebenarannya. Ketika orang-orang berpikir , walaupun hasilnya salah, masih jauh lebih baik dari pada orang-orang yang tidak pernah salah karena tidak pernah berpikir. Bisa dibilang atheis karena mencari kebenaran lebih baik daripada atheis tanpa berusaha mencari kebenarannya, meskipun tidak bisa juga dielak keduanya sama-sama buruk. Namun dengan adanya usaha mencari kebenaran saat itulah kita sedang menghargai keberadaan-Nya dan bukan hanya mengikuti warisan dari para sesepuh.
Keempat, Walaupun kita mengatakan diri kita sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai dengan Islam. Sering dengan tidak terasa kita telah berpikir sejalan dengan ide-ide lain. Kita terlalu mengurus hal lain hingga tidak pernah memperhatikan masalah ketuhanan. Pikiran kita akan-Nya menjadi dangkal – mati - tidak berisi.
Kelima, orang muslim hanya terfokus pada cita-cita kahir dan tidak memperhatikan proses atau programnya. Yang terjadi kemudian mereka hanya taklid, tidak ada ijtihat, dan takut (berpikir sehingga) menemukan kebenaran-kebenaran baru yang berbalik dengan apa yang diyakini. Padahal orang yang takut untuk berpikir bebas itu ditimpa oleh ketakutan dan keraguan akan kepura-puraannya yang sudah tak terlihat. Dia ragu untuk berkata bahwa ada satu pikiran yang dia benamkan di bawah sadarnya. Pikiran yang dibenamkan ini dia larang untuk muncul dalam kesadarannya.
Seharusnya memang tidak ada yang salah dari semua hal ini, hanya saja perlu kiranya ada kesadaran dan keberanian untuk setiap muslim. Islam itu dinamis, namun pemahamannya sosiologis dinamis. Jadi bukan manusia yang menyesuaikan dengan hukum, tetapi nilai hukum (fiqh) itulah yang menyesuaikan dengan manusia.
Di tengah-tengah keberagaman manusia bukan tidak mungkin permasalahan juga berkembang maka dari itu perlu dipertanyakan bahwa kasus dan hukum pada nabi masih bisakah untuk kita pakai saat ini? Siapa yang tahu sebenarnya ketetapan hukum islam itu sebenarnya tidak ada, yang ada adalah sejarah nabi dan setiap orang mengambil pelajaran dari sana.
Kurang lebih seperti itulah sedikit ulasan mengenai buku ini. Saya pribadi menilai buku ini sangat relevan dengan biografi dan bidang yang digeluti oleh Ahmad Wahib. Beliau adalah muslim yang cerdas dan kritis, tidak heran tulisannya penuh dengan keberanian dan kuat.
Sekalipun buku ini hanya berupa catatan kecil Ahmad Wahib saya sebagai pembaca merasa cukup puas karena melalui catatan ini pembaca akan diantar untuk berpikir lebih jauh dan mendalam. Hanya saja saya rasa untuk seorang muslim yang memiliki kurang memiliki basic keagamaan atau paling tidak mengetahui problematika agama akan sedikit susah untuk memahami bahasan dalam buku ini.
Selain itu beberapa kali buku ini juga memakai bahasa ilmiah dan bagi pembaca yang tidak tahu perlu mempersiapkan KBBI ketika membacanya. Jadi saya kira buku ini cocok untuk dibaca oleh mahasiswa dan pemuda islam yang masih memiliki semangat yang segar sebagai generasi penerus umat.

Komentar

Postingan Populer