filsafat yunani untuk mental tangguh masa kini
Judul
: filosofi teras
Penulis : Henry manampiring
Penerbit : penerbit buku kompas
Cetakan : cetakan ke-1
Tahun terbit : 2019
Tempat terbit : Jakarta
ISBN : 978-602-412-518-9
Tebal : xxiv + 320 halaman
Ukura : 13 x 19 cm
oleh: ulul faricha luqman :)
Filosofi
teras adalah terjemahan dari filsafat stoa atau stoicism dalam bahasa
Indonesia. Filsafat ini mengusung solusi dari banyaknya emosi negatif dalam diri
kita dan membantu kita membentuk mental tangguh di tengah naik turunnya roda
kehidupan.
Kaum
stoa menyebut sebuah kebahagiaan dengan keadaaan yang tidak wajar, yakni sebagai situasi negative. Mereka menggunakan
istilah “Ataraxia” atau bisa ditafsirkan not troubled, kata ini berasal
dari A berarti ‘tidak’ dan tarassein berarti ‘gangguan’. Jadi,
kebahagiaan yang biasanya dianggap sebagai situasi dimana jiwa merasa tenang
dan damai digambarkan oleh kaum stoa sebagai situasi dimana tidak ada gangguan.
Namun
meski filsafat ini hadir lebih dari 2000 tahun lalu apakah masih bisa dibilang
relevan?
Hal
ini bisa dijawab melalui kecelakaan yang sering mampir dalam keseharian kita.
Dari kemacetan, polusi, tugas yang kian menumpuk, hubungan dengan doi yang
kurang baik dan masih banyak lagi kecelakaan-kecelakaan yang menimbulkan
penyakit emosi. Dari keadaan inilah filsafat stoa hadir membantu mengendalikan
emosi kita dan memberitahu bahwa tidak semua yang buruk akan selalu menjadi buruk
tetapi bergantung dari bagaimana sikap yang kita berikan dalam menanggapinya.
Oleh
karena itu filsafat stoicism dapat dikatakan masih relevan di zaman sekarang, dan
hal ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa filsafat ini bisa dipakai oleh
semua kalangan. Alasannya ya karena memang semua orang butuh untuk
mengendalikan emosi, entah orang kaya, orang miskin, orang kulit hitam, orang
kulit putih, sampai tokoh agama juga bisa menggunakan filsafat ini. Bahkan para
pembesar filsafat stoa telah membuktikannya, yang pertama adalah Seneca yang
berkedudukan sebagai penasihat kaisar romawi, kedua Epictetus yang mana dia
adalah seorang budak, dan ketiga adalah Marcus Aurelius sebagai kaisar romawi.
Selain
itu, filsafat ini bukan hanya terfokus pada masalah-malasah besar manusia
seperti belum belajar padahal nanti akan ada ujian, maju presentasi tapi lupa
materinya, atau handphone tiba-tiba rusak saat dua menit lagi kelas online
akan dimulai. Tetapi filsafat stoa juga bisa membantu kita dalam hal yang kecil
nan remeh sekalipun.
Untuk
lebih jelasnya ada contoh kasus : suatu hari kita sedang berjalan untuk membeli
gado-gado. Di perjalanan pulang karena tidak terlalu fokus akhirnya kita
menginjak taik kucing yang masih basah. Taik kucing itu menempel
di sandal dan baunya semakin menyengat setiap kita berjalan.
Dalam
hal ini ada dua situasi yang kemungkinan kita lakukan: (A) kita akan terus
mengumpat sepanjang jalan, meninggalkan sandal yang menjadi korban kekurang ajaran
kucing dan tidak memakan gado-gado yang kita beli karena masih terbayang-bayang
kisah mantan, eh taik kucing. Atau (B) lekas berjalan ke rumah,
membersihkan sandal dan memakan gado-gado karena sudah lapar (jangan lupa cuci
tangan, nanti kena corona :v).
Dari
dua kemungkinan itu sudah seharusnya kita memilih B, apalagi mengingat anugrah
Tuhan berupa akal. Kita seharusnya mikir mengeluh itu cuman buang-buang
tenaga dan nggak akan memberikan apa-apa. Rasionalnya, apa dengan ngeluh
sandal kita akan kembali baik-baik aja? Apa dengan meninggalkan sandal kita di
TKP kejadian semacam itu tidak mungkin terulang lagi? Apa dengan mengedepankan
rasa terbayang-bayang taik kucing perut kita bisa langsung kenyang? Kan
enggak!
Lalu
sebenarnya ocehan panjang lebar begini apa sih hubungannya sama filsafat stoa?
Dari
buku Henry manampiring ini setidaknya ada empat poin sebagai kunci kebahagiaan
kaum stoa: yang pertama, kita harus terhindar dari nafsu-nafsu yang nggak
jelas, kecanduan sesuatu angkara murka, kehilangan kendali, dendam kusumat,
kecemasan yang obsesif, dan rasa kesal yang berlebihan. Nafsu-nafsu di sini
bisa dikatakan pula sebagai hasrat yang eksesif misalnya menghendaki sesuatu
yang jelas-jelas tidak masuk akal (seperti menghasrati tidak akan tua).
Kedua,
mengetahui hal apa yang “bergantung pada kita” dan “tidak bergantung pada kita”,
atau istilah lainnya adalah takdir muallaq dan takdir mubram. Hal yang bergantung pada kita bisa misalkan
seperti kekayaan, kesehatan, dan prestasi, yang artinya bisa kita kendalikan
dan usahakan. sedangkan hal yang tidak bergantung pada kita adalah kecantikan,
ketampahan, dan opini orang lain, artinya hal ini tidak bisa kendalikan namun
ada kemungkinan untuk kita usahakan. Caranya gimana? Contohnya kita
memiliki tampang yang pas-pasan maka paling tidak kita selalu menjaga dan
merawat diri kita.
Ketiga,
mengendalikan
persepsi dan pikiran. Bagi kaum stoa, filsafat bukan sekedar mengisi waktu atau
menumpuk ide untuk bergaya di depan kaum awam. Melainkan praktek dan latihan ,
sebuah seni.
”
Jangan suka menyebut diri anda sendiri sebagai filsuf, jangan banyak berbicara
di depan orang awam tentang teori-teori filsafat. Tidak penting itu semua,
karena yang pokok adalah bagaimana anda hidup sesuai apa yang anda pelajari,” -
Epictitus (enchiridron: 46)
Keempat,
bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Dalam hal ini
filfasat stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis emosi negative (yang
menjauhkan dari kebahagiaan) : iri hati, takut, rasa sesal, dan kenikmatan.
Sebagai
orang yang pernah mengalami major depreressive disorder menurut saya
Henry manampiring cukup berkompeten untuk menulis buku filosofi teras ini. Dia
mengalami sendiri kondisi medis ini dan benar-benar telah menerapkan filosofi
teras dalam kehidupannya sehingga tulisannya begitu kuat.
Bahasa
yang digunakan oleh Henry pun merupakan bahasa gaul yang mana sangat mudah
untuk dipahami dan tidak membuat jenuh. Untuk itu, saya rasa buku ini cocok
untuk semua kalangan. Bahasa yang digunakan mampu mempermudah pembaca dalam
memahami isi buku. Hal ini juga selaras dengan bahasan (materi) buku tersebut
yang cocok untuk semua kalangan dan tidak lekang oleh masa. oleh karena itu,
hingga beberapa tahun kedepan buku ini saya kira masih relevan untuk dibaca.
Keadaan
yang relevan ini saya nilai dari masalah-masalah yang dipaparkan henry dalam
buku tersebut. Dimana masalah ini pasti akan dialami semua orang kapan pun dan
dimana pun, yaitu emosi (rasa khawatir, sesal, takut, dll). Selain itu upaya untuk
mengontrol emosi yang ditawarkan oleh Henry juga telah terbukti keefektifannya.
Hal ini dia alami dan ceritakan dalam buku tersebut.
Di
samping terdapat bukti konkrit yang dialami sendiri oleh henry, buku ini juga
berisikan wawacara pakar dan praktisi dari berbagai bidang yang relevan,
seperti Dr. Andri, SpKJ, FAPM., seorang psikiater dengan spesialiasi psychosomatic
medicine; Agstried Peithers, seorang psikologi pendidikan; Wiwid Puspitasari
seorang psikologi klinis; Llila Halimatussadiah, seorang pengusahan dan
penulis; dan Citta Cania Irlanie, seorang aktivis dan editor.
Namun
bisa dibilang buku ini hanya menjadi pengantar untuk lebih mendalami filsafat
stoicism dan bukan membahas filsafat tersebut secara dalam. Saya sendiri
terjebak oleh judul buku tersebut yang tertulis “filosofi teras; filsafat
yunani-romawi kuno untuk mental tangguh masa kini” dan mengira buku ini
akan membahas filsafat stoa. Karena nyatanya yang saya rasakan buku ini lebih
membahas solusi dari emosi negative.
Setiap akhir dari bab dalam buku ini juga
terdapat intisari atau poin-poin. Hal ini menurut saya bisa menjadi kelebihan
juga kekurangan. Kelebihannya poin ini membantu pembaca mengetahui nilai-nilai
penting di dalamnya, kekurangannya poin ini membatasi pikiran si pembaca dan
membuat pembaca kurang berpikir kiritis.
Dibalik
semua itu, yang paling sukai dari buku ini adalah adanya ilustrasi dan quot
untuk setiap bahasan pada bab, hal ini membantu pemahaman si pembaca selain
dari segi bahasanya tadi.

Komentar
Posting Komentar