Lalita: Perempuan, Seks, dan Gender.
Sebelumnya saya meminta maaf jika judul tulisan ini terlihat tabu
terlebih dalam kultur ketimuran kita. Tapi perlu diketahui bahwa tulisan ini
tidak membahas hal yang jorok maupun tidak senonoh.
Sejak peluncuran novel Saman tahun 2000-an, sastra wangi kian
banyak bermunculan mewarnai dunia kesusastraan di Indonesia. Hal mendasar dalam karya
sastra yang ditulis oleh perempuan ini adalah kecenderungan membawa tema seks
yang terkadang juga sedikit vulgar namun berani. Mereka menolak hal semacam itu
menjadi ketabuan, menyuarakan sebuah kejujuran dan menampik larangan-larangan
yang ditetapkan bagi kaum hawa seperti seks. Tak heran Taufiq Ismail sampai
menyebut karya mereka sebagai sastra selangkangan.
Salah satu perempuan indonesia
yang menjadi penulis sastra wangi adalah Ayu Utami. Penganut agama khatolik
yang lahir di Bogor, 21 November 1969 ini telah menulis banyak karya mulai dari
novel, esai, naskah drama sampai film. Ia sering menggunakan kata atau ekspresi
(yang saat itu) kurang lazim untuk digunakan, sering menampilkan posisi
perempuan sebagai laki-laki dan juga kerap menggunakan mitos maupun legenda.
Novel Lalita
merupakan buku kesekian milik Ayu Utami. Meskipun novel ini adalah seri kedua
dari Bilangan Fu namun pembaca dapat
membacanya secara terpisah tanpa mengkhawatirkan rasa kurang mengerti (bingung)
karena setiap buku memiliki kisah yang berbeda.
Lalita digambarkan sebagai
perempuan yang berumur empat puluh tahunan yang selalu memakai rias wajah tebal
sehingga menyembunyikan tampilan dia yang sebenarnya. Dia menyukai seni dan
sejarah. Bahkan dalam buku itu disebut Lalita mengajarkan seni ber-seks pada
seorang pemuda yang baru ditemuinya di galeri, Yuda. Lelaki yang
menyelamatkannya dan diajaknya memasuki kamar gelap.
Pada perempuan ada sebuah liang, yang hanya bisa dicapai jika si
perempuan sungguh membuka diri, dan si lelaki cukup lentur untuk mengalaminya.
Wahai. Kaum pria tidak bisa mencapainya dengan mengandalkan otot-otot maskulin
kasar dan kaku. Mereka harus rela untuk menjadi rebih penari daripada prajurit.
Dan kaum wanita tidak bisa mendapatkannya hanya dengan rebah laksana tanah.
Mereka harus lebih binatang daripada kembang. Liang ini tak bisa dicapai dalam
pemerkosaan. (Lalita: hal 32)
Dari sini dapat kita lihat
bagaimana secara terang-terangan Ayu Utami mengambarkan seks itu meskipun (waktu itu) pembicaraan soal seks menjadi hal yang tabu terutama jika dibicarakan oleh
perempuan. Namun jika dipikir ulang bukankah wajar jika sastrawan perempuan menulis mengenai seksualitas
karena perempuan juga memiliki hak atas tubuhnya masing-masing?
Sebagai salah satu sastrawan yang disebut-sebut sebagai feminis agaknya tidak mengherankan jika perempuan yang menyukai film Tin-Tin ini melakukan hal itu untuk mengubah pola pikir masyarakat akan seks terhadap perempuan. Sebuah ketidakadilan.
Lalu pertanyaannya mengapa harus seks sebagai
perantara dalam misinya membongkar ketidakadilan gender? Di lansir dari dw.com
Ayu Utami mengatakan seks itu merupakan pangkal ketidakadilan yang menimpa
perempuan. Padangan bahwa perempuan makhluk yang lemah, kurang mampu, emosional
dan harus dilindungi berawal dari seksualitas. Mereka terpenjara bahwa
keperawanannya dan tubuhnya adalah kehormatan perempuan bahkan kehormatan
masyarakat. Dan sialnya, sekali lagi semua itu dikaitkan dengan seksualitas.
Padahal, orientasi dan cara orang
menikmati seks itu berbeda-beda. Orang Indonesia menentang seks bebas tapi yang mereka maksud tidak jelas. Ketika
mereka mengatakan seks bebas sering kali mereka merujuk pada seks remaja yang
belum menikah. Sedangkan jika menurut Ayu Utami suami istri juga melakukan
perselingkuhan, yang artinya itu juga ada seks bebas tapi biasanya tidak
dibicarakan.
”Menurut saya ini berasal dari
ketidakmampuan orang untuk mengakui bahwa perselingkuhan terjadi di mana-mana
dan hubungan seks di luar pernikahan terjadi di mana-mana, dan tidak semuanya
buruk. Saya berani mengakuinya, tapi jarang orang mengakuinya. Jadi ada ketakutan
untuk mengakui bahwa hubungan seks di luar nikah tidak semua buruk.
Ketidakberanian inilah yang melahirkan sikap formalis yang ingin selalu
menghukum semua hubungan seks di luar nikah,” Ungkap Ayu Utami.

Komentar
Posting Komentar