celoteh: Keponakanku. (1)
“Mbak Icha, nanti temenku mau kesini,” anak
lelaki gembul itu berlari ke arahku dengan wajah menggemaskannya.
“Ya udah. Kesini ya kesini aja. Biasanya juga
gitu kan,” kataku masih tak mau berpaling dari laptop.
Selanjutnya dia tidak merespon ucapanku, aku
tahu dia memiliki sesuatu untuk katakan. Berkali-kali aku merasai keponakanku
itu melirikku seakan-seakan sedang mempertimbangkan banyak hal. Aaah, tapi yang
paling menjengkelkan sebenarnya aku tahu dia ingin memintaku memberinya privasi
bersama teman-temannya, atau singkatnya aku disuruh pindah!
“Kenapa?,” tanyaku sengaja judes. Kuberi tahu, ini trik setiap dia mengusik
kenyamananku. Kau harus mengenali kelemahannya.
Dia menggeleng dan segera pergi. Nah kan,
manjur. Keponakanku itu sama seperti ayahnya, tipikal yang tidak enak hati,
tidak suka membantah, dan tidak suka berdebat, intinya dia selalu memberikan pengertian dan memahami cara
berfikir orang lain. Kalo dalam
kajian psikologi sifat-sifatnya itu masuk kedalam ciri-ciri orang yang positif thinking.
Beberapa saat kemudian dia kembali lagi.
“Tapi kalo nanti temenku rame dan ngeganggu
mbak Icha gimana?”
“Biasanya juga selalu rame kalo kesini.”
Satu lagi dari keponakanku ini. Dia itu pinter
ngomong. Dia cerdik yang licik. Setiap kata yang diucapkan pasti mengantung
nilai kepentingan tersendiri yang ingin dia capai. Nggak tahu juga belajar dari
siapa. Tapi meskipun begitu keponakanku ini punya pertimbangan yang baik. Dia
nggak akan memberikan kerugian untuk pihak lain untuk kepentingan itu,
istilahnya ada korelatiflah. Haduh, mulai
ngawur aku nih. Hehe.
Tapi sebenernya kalian
penasaran nggak sih keponakanku ini kelas berapa? Jangan
Tidak lama keponakanku kembali dengan membawa
teman-temannya. Semua berjumlah lima orang. Dua dianataranya aku kenali karena
memang sering bermain ke rumah, namun
yang lainnya tidak. Mereka duduk di pojok membelakangiku, sedangkakan
keponakanku menghadap kearahku. Apa perasaanku saja keponakanku itu seperti
sedang mempimpin sebuah perkumpulan?
Aku memilih untuk kembali dalam pekerjaanku. Akhir-akhir
ini tugas kuliah semakin menumpuk. Kuliah dilakukan secara daring karena perkembangan
dampak penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Hal ini supaya membatasi
kita untuk berinteraksi dengan orang banyak sehingga presentase untuk tertular
lebih rendah. Senengnya sih, hemat biaya transportasi, waktu kuliah lebih
singkat dan tempatnya bisa menyesuaikan. Tapi nggak enaknya kalo koneksi
internet udah nggak bisa diajak kerja sama, beberapa mata kuliah nggak bisa
diajarkan secara online dan interaksi sosial kurang lossss.
Diam-diam aku sebenarnya juga mengikuti
percakapan keponakanku yang sedang memojok itu. Tapi mereka lebih mendekati
sunyi daripada mendiskusikan sesuatu. Karena didorong rasa penasaran aku mencoba
untuk mendekat. tentu saja dengan cara yang cerdik.
Aku berpura-pura mengambil buku di rak yang kebetulan berada di dekat mereka
lalu menahan diri disana dengan membuka lembar demi lembar buku itu seakan
sedang mencari sesuatu. Tapi memang, haha
“Sebenarnya aku memiliki sebuah teori. Tapi ini
baru yang kudapat dari otakku kecilku. Aku belum bisa menemukan ujungnya,” kata
lelaki yang berada diujung.
“Apa?,” Tanya keponakanku.
“Kurasa dugaan China yang mengatakan Corona
dari kelelawar yang mereka konsumsi itu salah. China sudah sejak dulu
mengonsumsi itu, tapi kenapa baru sekarang virus itu ada,?” dia terdiam
sejenak. Karena tidak ada sahutan dari teman yang lain, ia meneruskan.
“Yang pertama, itu berasal dari penelitian yang
bocor, mungkin dari dua laboratorium yang terhubung di Wuhan. Yang kedua, itu
modus untuk memasarkan sebuah obat. Jadi sebenarnya mereka telah menemukan obat
itu hanya saja belum dikeluarkan. Ya intinya, semakin banyak yang terjangkit
penyakit tersebut semakin banyak pula yang membutuhkan penawarnya. Dan yang
ketiga,” ia berhenti lagi. Anak lain masih memperhatikan dengan seksama.
Sedangkan aku, merasa lemas dengan isi pembicaraan mereka.
“Apa?,” Tanya keponakanku mendesak.
“Mungkin ini sudah direncanakn oleh kumpulan orang Elit Global untuk menguranggi
populasi manusia.”
Aku sudah tidak bisa menahan diriku. Buku yang
kupegang jatuh. Anak-anak ini. Aku
dengan segera menoleh kepada mereka dan dengan jengkel mendapati mereka sudah
melepaskan diri, mereka kabur begitu pula dengan keponakanku.
“Dasar bocah,” geramku.
Kalian tidak tahu masalah apa yang dipebuat
keponakanku itu setahun yang lalu sebelum akhirnya kakek menyelesaikannya.
Persis dengan yang ia lakukan saat ini. Perkumpulan,
rencana, aksi, dan ah sudahlah.
Sebelum aku mengejar mereka, aku terpaku pada
sebuah tulisan yang sepertinya tidak sengaja mereka tinggalkan. Tulisan itu
begitu berantakan sehingga aku tidak terlalu bisa membacanya, tapi kata
terakhir benar-benar dapat kubaca dengan jelas.
Iluminati.

Komentar
Posting Komentar