Boy: Kisah Masa Kecil


oleh: Ulul Faricha Luqman
 
Pada September 2004, untuk pertama kali buku Boy Tales Of Childhood diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Buku ini menceritakan kisah selama dan setelah sekolah sang penulis di Llandaff Cathedral School, St. Peter’s, dan Repton. Meskipun begitu, jangan membayangkan ini kisah sejarah hidup penulis yang penuh detail dan membosankan (autobiografi). Beberapa kisah didalamnya ada yang lucu. Beberapa menyakitkan. Beberapa tidak menyenangkan. Dan tentu, semua benar terjadi. 

”Sepanjang masa kecilku, selama dan setelah sekolah,
terjadi beberapa hal yang tidak akan pernah kulupakan” – Roald Dahl

secara pribadi; kisah favorit saya dalam buku ini adalah mengenai kebandelan Roald Dahl dengan memasukan bangkai tikus ke dalam toples permen karena tidak menyukai penjaga toko yang tidak ramah. Keesokan harinya atas perbuatannya itu ia harus diseret ke kantor sekolah dan menerima hukuman disana berupa pukulan rotan pada pantat yang sangat menyakitkan. 

Untuk tahun 1923- 1925an hukuman semacam itu mungkin dinilai cukup efektif karena dapat memberi efek jera dan takut pada anak untuk tidak mengulangi kesalahannya. Namun, jika berkaca pada sisi psikologi hukuman fisik akan berdampak buruk pada kesehatan mental anak. Para peneliti menyimpulkan trauma masa yang demikian menjadi penyebab perilaku antisosial 46 persen responden laki-laki dan 47 persen responden perempuan.

Sementara itu, dari republika.co.id beberapa penelitian di seluruh dunia telah menemukan fakta bahwa hukuman fisik bukan merupakan solusi abadi untuk masalah mendisiplinkan. Anak-anak terlihat lebih tidak berperasaan dan menunjukan lebih banyak agresi saat dipukul. Sekolah mereka juga lebih cenderung terganggu dan sulit berkonsentrasi. Di masa dewasa, tidak hanya mereka mengalami masalah kesehatan mental, kemungkinan besar mereka juga akan memukul anak mereka sendiri. Jadi siklusnya berlanjut.

Oleh karena itu, dalam menyikapi anak yang  melakukan sebuah kesalahan alangkah baiknya seorang guru maupun orang tua memberikan arahan dan bimbingan. Bukan melakukan sebuah tindakan yang justru menyakiti fisik dan psikis anak. Jika mengimplikasikan filsafat idealisme dalam pendidikan seharusnya peran seorang pendidik adalah membantu mengelola ide-ide abtrak siswa melalui dialektik, jadi bukannya menyalahkan jawaban anak yang nantinya malah membuat down. Selain itu peran pendidik adalah menjadi teladan atau role model yang akan ditiru oleh siswa.

Selain itu, buku dengan tebal 232 halaman ini begitu laris bahkan sampai penulisnya dinobatkan menjadi penuis favorit anak-anak. Imajinasi dan kecerdasan Roald dahl begitu tinggi terlebih untuk peristiwa bangkai tikus dan mengganti tembakau di pipa milik tunangan kakaknya dengan kotoran kambing. Hal yang tidak terpikirkan oleh teman maupun anak seusianya. Bahkan seorang psikolog anak-anak Bruno Bettelheim pada penelitiannya yang berjudul The Uses Of Enchantment, mengatakan ”Tanpa khayalan-khayalan seperti itu, anak-anak tidak bisa mengetahui monsternya dengan lebih baik dan tida ada saran-saran bagaimana anak-anak dapat menguasainya. Sebagaimana hasilnya, anak tidak berdaya menghadapi kekuatan terburuknya. Jika anak sudah diceritakan dongeng yang memberikan bentuk ketakutan, dia ditunjukkan cara mengalahkan monster-monster itu.” Jadi  kisah dalam buku Boy Tales of Childhood bisa dibilang dapat membantu anak-anak dalam menghadapi ketakutannya.

Namun saya pribadi tidak terlalu menyepakati jika buku ini baik untuk dibaca anak-anak. Pertama, buku ini cenderung memperlihatkan bahwa guru adalah orang dewasa jahat yang akan selalu menghukummu ketika kamu salah. Hal ini akan membawa anak memiliki penilaian yang buruk terhadap guru. Sementara ketika mereka berada dalam bangku sekolah orang yang kan membantu proses belajar mereka adalah guru. Kedua, dalam buku ini terdapat beberapa bab yang terlalu vulgar untuk anak-anak. Seperti ketika Roald Dahl mengambarkan sosok Marton (pengurus asrama) memiliki buah dada yang besar.

”Kupikir dadanya yang besarlah yang membuatku takut. Mataku terpaku melihatnya, dan bagiku dadanya yang besar terlihat seperti bulatan besar di ujung tongkat tempur zaman dahulu, atau haluan kapal pemecah es, atau mungkin dua bom berkekuatan besar.” (hal: 111-112)

 Ketiga, ada part dalam buku yang mengisahkan bagaimana Roald merindukan rumahnya sampai ia berbohong sedang menderita sakit usus buntu agar diberikan izin untuk pulang dari asrama. Tanpa membantah bahwa kebohongan yang dilakukan anak kecil dianggap sebagai tanda kecerdasan dan kreativitas tetapi secara tidak langsung apa yang dilakukan Roald Dahl mengajarkan anak juga melakukan kebohongan. Pahadal sikap orang terhadap kita juga dipengaruhi oleh rasa percaya yang kita berikan kepada mereka. Lalu bagaimana jika sejka kecil kita terbiasa untuk berbohong?

Komentar

Postingan Populer