Celoteh: Kota Syariah
Oleh: Ulul Faricha Luqman
Dari dulu momen reuni selalu menjadi ajang yang
ditunggu-tunggu. Kenapa? Ya, seneng aja. Bisa ketemu kawan lama, membandingkan
perkembangan gaya mereka, menukar pengalaman-pengalaman baru dan jangan
lupa—mengenang masa-masa menjadi remaja. Tapi sayangnya reuni kali ini harus
berakhir di rumah sakit. Bukan, bukan aku yang masuk rumah sakit, tapi
sepupuku. Beberapa hari yang lalu dia
dengan sengaja memakan makanan kadaluarsa. Dan kurang ajarnya lagi alasan dia
adalah tidak bisa masak. Hei, ini 2020.
Makanan apa yang tidak bisa dipesan lewat aplikasi.
Ah, tapi sungguh malang sepupuku ini. Sudah
tiga hari dia berbaring lemas diatas kasur pasien. Belum ada perubahan yang
baik semenjak ia dirawat inap. Iseng juga hari itu aku bercerita soal kematian.
Menakut-nakuti dia dan berbicara (sok) bijak untuk mensyukuri hidup serta
mengutip pemikiran Epicurean. “Jika aku
hidup maka aku ada, jika aku mati maka semua selesai. Lalu apa yang perlu
ditakutkan?”.
Tapi
emang dasar dia, omonganku tadi dianggap angin lalu. Selesai aku menyuapinya
dia langsung tertidur pulas dan tidak terbangun lagi. Meski terbesit rasa kesal
tapi kasihan juga melihat keadaannya yang seperti ini. Aku tidak menyalahkan
tante karena selalu memanjakannya, tapi mengetahui sepupuku yang tidak bisa
masak, aku menyadari betul betapa besar peran orang tua untuk kemandirian
anaknya di masa depan.
“Kamu udah kuliah ya Cha?” Tanya mas Fai, dia
abang sepupuku.
“Iya mas,” aku mengangguk dan menyebutkan nama
kampusku juga kotanya.
“Kadang mas nggak habis pikir sama orang-orang
yang berpikiran sentimental dengan adanya modernisasi di suatu kota.”
“Maksudnya?” kenapa mas Fai tiba-tiba membahas ini?, batinku.
“ya misal ada pembangunan hotel baru lalu
dianggap maksiat, ada pembangunan gedung bioskop juga dianggap akar maksiat.
Ironisnya lagi, tempat wisata juga dinilai sebagai tempat maksiat. Kok begitu
mudahnya orang menghakimi sesuatu. Kapan kota itu akan maju kalo pikirannya
saja masih sempit begitu?”
Aku diam saja mendengarkannya, mas fai terlihat
masih memiliki banyak unek-unek untuk disampaikan.
“Terus bagaimana jika sepasang manusia
tertanggap sedang mesum di masjid? Apa masjidnya akan ditutup juga?,” lalu
setelah mengatakannya mas Fai tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu? Pikirku. Tapi demi sopan-santun aku ikut tertawa
juga.
“Ah, mana mungkin. Kalo masjid ditutup
bagaimana mereka akan menyerukan azan dan melakuakan sholat berjamaah? Bagaimana
pula mereka akan menyelenggarakan acara-acara keagamaan? Kan masjid menjadi
pusat kegiatan karena gedung-gedung belum bisa untuk diterima. Iya nggak Cha?”
“Eh, iya mas.”
“Hahhh, mas paham. Mungkin supaya aman dan
menghindari maksiat kalo mau bangun apa pun harus dikasih label kata ‘Syariah’.
Misal Hotel Syariah, Bioskop Syariah, Cafe Syariah, Taman Wisata Syariah.”
“Tapi kalo nanti ditutup juga kasihan para
pekerjanya mas. Umpanya ada 40 karyawan yang bekerja di hotel syariah itu,
suatu saat akhirnya orang masih tidak terima meskipun memiliki bubuhan kata Syariah,
lalu pihak yang menolak itu tidak bertanggung jawab pada 40 karyawan yang
kemudian menjadi pengangguran karena kehilangan pekerjaan. Kan kasihan mas.”
“Nah, makanya itu. Mereka itu kurang banyak
pertimbangan. Orang udah dibangun baru didemo, kenapa nggak jauh-jauh hari
sebelumnya?”

Komentar
Posting Komentar