Celoteh: Menonton Donal Bebek
“Tante Icha, selamat tahun baru 2020, semoga
tahun ini lebih baik dari yang sebelumnya,” anak laki-laki gendut itu berlari
ke arahku dan memeluk erat.
“Iya, selamat tahun baru juga,” kataku
membalasnya. Dia adalah cucu pertama ibuku yang artinya adalah keponakanku. Dalam silsilah keluarga aku anak terakhir dari tiga bersudara, di antara kami hanya kakak pertama yang
telah berumah tangga. Setiap pergantian tahun kakak pertama bersama keluarga
kecilnya selalu menyempatkan datang ke rumah untuk meminta doa kepada
ibu. Entah kenapa kali ini dia terlambat seminggu dari tanggal biasanya.
“Mana ayah dan ibumu?,” tanyaku
setelah melepas pelukan. Sepertinya keponakanku ini semakin gedut, tubuhnya
terasa berat saat menabrakku.
“Ada di luar sama nenek juga.”
“Di kulkas ada rambutan, mau
tante am-,”
“Emang Donal sialan!,”
Aku dan keponakanku sama-sama
terkejut. Itu suara sepupuku, tadi kulihat ia sedang mengerjakan sesuatu di ipadnya. Tapi sekarang dia malah memaki.
“Kenapa?” pintaku menyambut wajah
kusutnya keluar dari kamar. “Sini duduk bareng kita,” dan aku mengeser badanku
diikuti keponakanku.
“Emang donal sialan,” dia
menghembuskan nafas kasar. “seharusnya dia digantung aja di tiang bendera,
kerjaannya bikin rusuh terus. Awas aja kalo beneran jadi perang dunia ketiga.”
Kalimat terakhirnya membuatku
reflek mengangguk paham. Berarti tadi dia menggunakan ipad untuk membuka situs berita online.
“Hem, bukan maksud memihak sih. Tapi
kayaknya dia juga nggak mau perang itu terjadi deh, apalagi yang perang terbuka
sama Iran. Sebelum kejadian drone ini donal udah menunda penyerangan ke Iran
karena bisa jatuh korban sampai ratusan orang. Tapi kemarin ada korban nyawa orang USA, akhirnya kejadian beneran,” komentarku asal, dan semoga dia nggak
meneruskan. Karena sebenernya aku juga nggak terlalu paham.
“Apaan, korban tewas itu
gara-gara diserang sama Al-shaabab. Nggak ada hubungannnya sama Iran.” Bantahnya.
Ah, mana aku tahu? Aku kan asal bicara supaya dia tidak meneruskan. Tapi yang
ada. “Donal pasti sengaja bunuh Soleimani biar popularitasnya naik dalam negeri
setelah pemakzulan kemarin. Dia harus punya alibi yang kuat biar tetep pegang
kendali politik dalam negerinya.”
“Mungkin,” selaku “dia banyak
belajar politik dari Netanyahu. Setiap mau pemilu israil Netanyahu selalu
perang urat saraf dan konfrontasi militer dengan Hezbullah.” Sekali lagi aku
berkomentar asal.
“Tante!, aku udah panggil sampek
tiga kali.” Keponakanku menarik lenganku. Ah, aku lupa jika di antara kami ada
anak bocah gendut yang terhiraukan. Memang benar kata sepupuku, donal sialan. Gara-gara
bahas dia aku jadi lupa keponakanku. Seharusnya
aku memperhatikan dulu apa yang ada di sekitarku.
“Kalian pada bahas apa sih, aku nggak
ngerti. Donal itu siapa?”
“Bukan, hem maksud tante paling
kalo tante kasih tahu kamu juga nggak kenal.” Bujukku
“Ih, yang beneran donk tante, makanya
kasih tahu biar aku kenal,”
“Donal Bebek tahun 2020. Film keluaran
terbaru, jadi kamu belum nonton,” Sahut sepupuku pendek.
“Masa sih, coba lihat.”
Aku dan sepupuku saling
berpandangan. Tatapanku mengarah ke siapa
suruh bilang gitu, sekarang urus itu sedangkan tatapannya berarti jangan jadi sepupu yang resek, bantuin.
Note:
Pemakzulan = makzul = berhenti memegang jabatan, turun tahta

Komentar
Posting Komentar