Celoteh: Mengenal teman seperjalanan


Ini bukan pertama kalinya aku naik kereta. Sebelumnya, aku sudah beberapa kali menggunakannya, hanya saja dalam beberapa perjalanan aku terpaksa menggunakan bis karena ya- tiket kereta habis lebih dulu. Maka, setelah sekian lama ini adalah yang pertama aku kembali naik kereta.

Hari ini, saat aku pergi ke stasiun ternyata beberapa tempat yang dulu amat  kukenali telah banyak berubah. Tempat tunggu sekarang diperbesar dan digeser ke kanan, kamar mandi umum ditambah dan pohon didekat gerbang telah ditebang. (Jadi nggak salah sih, kalo ada yang bilang saat ini beton lebih subur daripada pohon. Memang ada kenyataan yang bisa diperdebatkan.) 

Namun, tanpa menghiraukan perubahan yang cukup signifikan itu. Aku ingin bercerita, ini mengenai teman seperjalanku. Saat itu aku masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk. 10-D, rupanya kursiku berada tepat disamping candela membelakangi arah laju. Dan di seberang telah duduk dua laki-laki yang nantinya bakal menjadi teman seperjalananku.

 “Mau kemana mas?” tanyaku basa-basi.

“Ke Surabaya mbak, turun Wonokromo.”

“ooo,” aku mengangguk kecil. Dulu, tahun 2019 entah bulan apa aku pernah pergi ke stasiun itu. Beli kopi bareng beberapa temen dan  uhuk! Mengamati kehidupan manusia pada jam dua dini.

Lha, mbaknya mau kemana?” tanyanya balik.

“Ke Surabaya juga, tapi turun stasiun semut.”

“Kuliah disana?” (maksudnya kuliah disekitar sana)

“Nggak mas, saya kuliah di Madura.” Jawabku.

Setelahnya kosong, percakapan berhenti. Kegiatan kami berganti saling menunduk menyembah tuhan-tuhan baru manusia. Memainkan hp. Aku sendiri enggan membuka percakapan lagi karena mereka terlihat ingin khusyuk.

Selang beberapa lama aku jenuh juga, akhirnya hal yang kulakukan selanjutnya adalah menyalakan musik, membuka web dan membaca beberapa artikel. Setiap kereta berhenti untuk menurunkan dan mengangkut penumpang aku ikut berhenti dari kegiatanku dan melihat aktifiktas manusia dibalik kaca candela. Aku jadi teringat filosofi kereta api yang pernah kubaca: hidup ini seperti perjalanan kereta api. Lengkap dengan stasiun-stasiun yang dilalui, dengan perubahan-perubahan rute dan kecelakaan-kecelakaan yang bisa terjadi.

“Mbak, saya duduk sini ya?,” Tanya seorang dari mereka. Dari tadi sepertinya teman seperjalananku itu sudah memperhatikan bahwa kursi di sampingku kosong.

 “Oh, iya mas. Nggak apa” 

Lalu dia pindah sekursi denganku dan meletakkan kakinya dikursi seberang. Dih, nih orang emang pinter. Harga tiket kita sama kali mas. Situ enak kakinya naik di kursi, sedang kakiku malah terjepit di antara barang-barang mereka. 
Aku diam saja bukan berarti terima, tapi emang mereka tidak peka. Lelaki yang duduk di sampingku akhirnya mengangkat barangnya. Sepertinya dia mulai peka. Tapi apa yang kemudian dia lakuakan mengubur pernyataanku tentangnya. Ia hanya mengangkat saja, seperti mengecek apa barangnya baik-baik saja dan tidak terkena kakiku. Oalah emang kurang asem iki jeneng e.

salam,
Ulul faricha Luqman 

Komentar

Postingan Populer