Celoteh: temen Siti kawin paksa?
Oleh: Ulul Faricha Luqman
Siti terlihat gelisah beberapa hari ini. Di kampung sebelah muncul berita bahwa Ayu akan dikawin-paksakan oleh bapaknya. Dan 2 hari yang lalu ia menerima undangan pernikahan teman masa kecilnya itu. Karena tidak ingin pening berlarut-larut Siti pergi menemui abangnya.
Tentu saja alasannya, ingin meminta antar ke pasar.
"Bang, abang nggak lagi sibuk kan?" Tanya Siti.
Abangnya yang sedang berjongkok di depan motornya menoleh. "Kenapa? mau minta antar ke pasar ya?"
Siti cengar-cengir mengangguk cepet. "Bisa ya bang? bentaran aja kok."
"Emang mau beli apa lagi? pasti salah ya kemarin beliin kerudung emak warna biru laut. udah dibilangin warna biru langit juga. Bentaran deh, abang masih mager."
Siti terlihat mengerucutkan bibirnya. Memang benar kemarin ia terkena marah oleh emaknya karena salah membeli kerudung, tapi hari ini ia lihat emaknya senang-senang saja menggunakan kerudung pilihannya, malahan digunakan pergi ke rumah tetangga. Ah, dasar emak-emak
"Eh, bang. Siti abis dapat udangan pernikahannya si Ayu."
"kapan nikahannya?," abangnya bertanya.
"Lima hari lagi bang."
"Bagus itu. kamu cepetan nyusul gih biar nggak ngerecokin abang minta antar ke pasar mulu."
"Cepet-cepet nikah juga nggak bagus bang kalo nggak saling cinta."
"Idih, anak kecil tahu apa soal cinta," abangnya tertawa keras-keras.
"Tuh kan, abang ngeselin. tadi suruh cepet nikah, sekarang malah ngeledekin Siti." Gadis itu merajuk kesal.
"Hahaha, iya deh. maafin."
Sebenarnya abangnya itu juga sedikit tersentil oleh perkataannya sendiri. Pasalnya, hingga saat ini ia belum bisa membawa seorang perempuan dihadapan emaknya.
"Bang, tapi tahu nggak? denger-denger si Ayu itu dinikahkan paksa sama bapaknya," Celetuk Siti.
"Tahu dari mana?"
"Dari gengnya emak, pada rame dibicarain."
Namun abangnya justru tertawa oleh perkataan siti. hal yang justru membuat gadis itu semakin bingung dan penasaran.
"Kok ketawa sih bang?"
"Maaf, refleks. Sebelumnya abang tanya dulu, kawin paksa itu apa?"
Siti sedikit kikuk dibuatnya. "Hm, mungkin perkawinan yang dilakukan secara terpaksa. Jadi nggak saling cinta. Iya nggak bang?"
"Kamu lihat Ayu nggak bahagia karena nggak cinta sama calon suaminya?"
Siti berfikir sejenak. "Nggak tahu sih bang, kan Siti nggak pernah lihat dia. Tapi kalo kata gengnya si emak dia bahagia aja sih, malahan sering keluar gonta-ganti tas bermerek."
Abangnya terlihat mangut-mangut sambil mengambil jaket yang tersampir di badan kursi.
"Eh, tunggu bang. jadi kalo nggak bahagia namanya bukan kawin paksa?"
"Bukan itu maksud abang."
"Terus?" Siti semakin bingung dengan abangnya.
"Nggak apa. Abang keinget kawin paksa antara pak presiden sama sebuah partai aja."
Siti sudah membuat mulut bersiap untuk bertanya lebh lanjut. namun abangnya telah mendahului.
"Jadi nggak? abang tinggal nih"

Komentar
Posting Komentar