Mereka hebat memainkan kata-kata. Dan kata-kata mereka Sungguh tidak main-main
Bebas Memainkan Kata-kata dan Makna
Oleh: Ulul Faricha Luqman
Pada Angkatan 2000 ini pengarang lebih bebas memainkan kata, seringnya mereka mengambil kata dari bahasa sehari-sehari yang kemudian disebut sebagai bahasa ‘kerakyatjelataan’.
Hal ini merupakan revolusi yang besar dari gaya bahasa yang sebelumnya. Dimana gaya bahasa dalam angkatan sebelum-sebelumnya menggunakan bahasa buku, berlebihan dalam menggunakan ungkapan dan masih kaku. Sedangkan dalam angkatan ini bahasa yang digunakan lebih merakyat sehingga menjadi semakin hidup dan akrab.
Isinya pun beragam, salah satunya adalah tentang kritik sosial terhadap kekuasaan orde baru dan ketidak menentuan situasi. Contohnya adalah puisi karya Afrizal yang berjudul Beri Aku Kekuasaan
Mereka pernah berjalan dalam tanam itu, membuat wortel, semangka, juga papaya. Tetapi aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka dari Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dank au beri nama: Jakarta 1945 yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.
Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo Gadung ke Sukarno Hatta, atau di gambir: Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ orang bicara tentang revolusi, konfrontasi Malaysia. Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman…
Puisi hasil buah karya Afrizal Malna tersebut bermaun-main dengan kata seperti wortel, semangka, papaya, boneka, ikan-ikan plastik dan angsa-angsa kayu. Kata-kata itu mengarah pada /kemana saja kau bawa kolonial ini/.
Dalam puisinya Afrizal memang begitu bebas mengunakan kata serta memberikan maknanya. Mulai dari nama buah sampai hewan. Semua memiliki tafsiran tersendiri. Seakan dia memiliki dunia dan bebas mendekorasinya seperti apa, semaunya, seinginnya.
Dalam puisi lain karya Sutarji Calzoum Bachri yang berjudul Luka.
Luka
Karya: Sutarji Calzoum Bachri
Ha ha.
Sesingkat itu. Puisi yang banyak memperoleh pujian ini disajiakan dengan bahasa yang rapat namun memiliki arti yang bahkan tidak tersedia tempat, begitu luas dan besar. Tak hanya penulis pintar bermain kata namun tulisan kata-katanya pun benar tak main-main. Sungguh indah.
Dalam beberapa kaca mata masyarakat mungkin puisi ini dianggap ambigu karena judul dan isi yang berlawanan. Dimana Luka adalah simbol kesedihan sedangkan ha ha adalah simbol kebahagiaan (tawa).
Namun jika menyelami lebih dalam sejatinya puisi ini memiliki kaya akan tafsiran makna. Baik maksud ha ha dari puisi tersebut adalah kesedihan yang teramat karena seringnya luka yang dia rasakan sehingga dia hanya dapat tertawa meratapi dan mengejek dirinya sendiri ataupun maksud dari ha ha adalah sebuah kebahagiaan karena dengan luka yang dia rasakan dia akhirnya memperoleh pelajaran dan hikmah.
Setiap pembaca bebas mengartikan sebuah karya melalui kaca matanya sendiri dan boleh menikamtinya melalui sisi manapun yang dia suka.

Komentar
Posting Komentar