menyisir roman "azab & sengsara" karya merari siregar

Oleh: Ulul Faricha Luqman 
A. Tentang Penulis
Merari siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada tanggal 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941. Dia dia adalah salah satu sastrawan balai pustaka yang masuk dalam angkatan balai pustaka. 

Masa kecilnya dihabiskan di Sipirok. Karena itu seluruh sikap, perbuatan dan jiwa Merari Siregar sangat dupengaruhi oleh kehidupan masyarakat disana. Dari daerah tempatnya tinggal itu ia menjumpai banyak ketimpangan-ketimpangan khususnya mengenai adat seperti, kawin paksa yang terdapat pada sosial budaya masyarakat sipirok. Begitu dewasa dan menjadi orang terpelajar merari siregar mendapati keadaan suku bangsanya berpola pikir tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang masih berpandangan kolot dan kurang baik. 

B. Tentang Buku "Azab & Sengsara"
Seperti daerah kelahiran penulis, roman ini mengambil latar di Sipirok, Sumatera Utara. Bahasa yang digunakan khas angkatan balai pustaka yakni banyak menggunakan ungkapan (majas). 

"Kalau induk ayam itu mati, siapa lagi yang mengaiskan makanan untuk anaknya yang masih kecil-kecil itu? bila hari hujan, siapakah lagi tempat mereka berlinung, supaya jangan mati kedinginan?"
(salah satu contoh ungkapan yang digunakan dalam buku ini, ungkapan emak Riam sedang meratap sakit)

selain itu, roman ini juga penuh petuah dan nasehat yang dibungkus menggunakan cerita. Salah satu bagian yang mengandung petuah adalah kisah ketika Riam kecl mengeluh "Kalau saya laki-laki tentu saya kuat bekerja sebagai angkang..."
lalu Udin, sang sahabat mendengar hal itu mulai memberikan nasehat kepada Riam bahwa kita harus senantiasa bersyukur dan orang tidak akan beruntung jika ia mencari kesenangan yang sempurna.

c. Sinopsis
buku ini menceritakan bagaimana tradisi kawin paksa saat itu berlangsung. Riam, seorang gadis yang tidak bersalah terpaksa harus diperkosa oleh kehidupan yang amat menyedihkan. Sang kekasih pergi merantau untuk menyiapkan pernikahan mereka, namun orang tua dari pihak laki-laki tidak merestui mereka karena masih mempertimbangkan kasta. Akhirnya Riam harus melerakan sang kekasih menikah dengan gadis lain.

sedangkan disatu sisi, sang ibu menderita sakit keras, Riam sebagai anak yang baik dan patuh tentu saja tidak ingin menjadi beban ibunya. penderitaan yang sudah-sudah ingin segera ia akhiri saat ini. Lalu ia pun menikah dengan seorang kerani dari kota atas saran ibunya, tak lama ia tahu ternyata sang suami memiliki penyakit menular karena seringnya bermain dipelesiran. Riam meratapi kehidupannya, ia harus disiksa karena tidak bisa melayani nafsu sang suami.

begitulah kurang lebih garis besar cerita dari roman ini. penulis ingin mengkritik orang yang pendek akalnya, jika hidup sudah terlampau melarat, mereka tidak memandang nyawa lagi. mereka akan menggerakkan segala macam cara termasuk mengawinkan paksa anaknya.

padahal, hal yang terjadi setelah itu hanya kesengsaraan bagi anak mereka. perkawnan itu dkukuhkan tanpa rasa suka, sayang, dan cinta. belakangan si laki-laki malah menceraikan tanpa perasaan. si perempuan yang ingin menikah lagi tidak mungkin karena sudah berkurang kelokannya. akhirnya ia masuk ke dalam lubang kemelaratan. tidak hanya badan, jiwanya pun rusak binasa.

Komentar

Postingan Populer