Bagaimana Jika seorang Sudra yang tidak jelas keturunannya menduduki kursi pemerintahan padahal saat itu masyarakat masih menganut sister kasta?

Oleh: Ulul Faricha Luqman 
"Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu."
-Pramoedya Anata Toer-

Sebagian besar masyarakat Indonesia saya rasa telah mengenal bagaimana kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Arok jatuh cinta pada Ken Dedes yang tak lain adalah istri Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah penguasa Tumapel, dia ditokohkan sebagai orang yang berkuasa, kejam dan penindas. Rasa cinta ini yang membuat Arok akhirnya membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris buatan Mpu Gandring. Sebelumnya, Ken Arok membunuh Mpu Gandring untuk mendapatkan keris itu. Arok akhirnya menjadi akuwu mengantikan Tunggul Ametung sekaligus menikahi Ken Dedes. Atas perbuatannya itu ia dikutuk oleh Mpu Gandring bersama tujuh keturunannya akan ditumpas oleh keris yang dia curi. 

Namun lain lagi dengan roman Arok Dedes milik Pramoedya Ananta Toer. Kisah yang disajikan membuat kita berkata wah dan geleng-geleng kepala sendiri. Sungguh buku yang hebat untuk sejarah fiksi. Bukan hanya percintaan namun juga tentang politik. Bahkan menurut saya percintaan Aros dan Dedes juga dilakukan secara politis. 

Selain itu buku ini terbit pertama kali setelah orde baru runtuh, yakni pada tahun 1999. Maka memang tidak bisa di cegah bila buku ini menjadi kontroversi mengingat tragedi saat itu. 

Arok adalah adalah seorang Sudra yang tidak diketahui asal-usulnya, semasa kecilnya ia kerap di sapa dengan nama temu dan terkenal sebagai perampok kecil bersama kawan-kawannya. 

Menuju dewasa kecerdasannya kian terlihat, ia selalu harus akan ilmu dan untuk itu ia mengembara menemui guru-guru menuntaskan kehausannya. 

Pada suatu hari, kudeta itu terjadi. Kudeta yang bisa di bilang pertama kalinya di tanah jawa. Kudeta yang licik namun cerdik. Hanya dengan mengorganisir perlawanan terhadap akuwu Tunggul Ametung tanpa disadari orang, Arok akhirnya mampu menduduki tahta menggantikan Tunggul Ametung. 

Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumuran darah mengiringi jatuhnya Tunggul Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur diatas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melemparkan umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan maupun lawan, yang ada hanyalah tujuan akhir: puncak dari kekuasaan itu sendiri; tahta dimana hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang diinginkan.
Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia.

Komentar

Postingan Populer