Berbicara Tentang Film "Captain Fantastic"

Film Captain Fantastic adalah film 2016 Yang ditulis dan disutradarai oleh Matt Rose. Awal ketika saya membaca judulnya hal yang terlintas dalam benak adalah film superhero. Namun ketika film mulai di putar tebakan saya tadi lenyap sudah. 

Cerita dalam film tersebut mengisahkan kehidupan sekelompok keluarga yang hidup di dalam hutan. Saat pagi mereka akan berolah raga, berburu dan memasak. Lalu saat malam mereka akan membaca buku dan bermain musik. Rutinitas itu diajarkan oleh sang ayah bernama Ben. 

Suatu hari warta akan kematian sang ibu sampai pada mereka. Keenam anak Ben begitu terpukul, apalagi Ben yang tidak diharapkan kedatangannya oleh orang tua sang isteri, mertua Ben. Namun teringat wasiat yang diamanatkan sang isteri membuat Ben dan anak-anaknya tetap pergi pada upacara pemakaman Leslei, ibu mereka. 

Keluar dari hutan, mereka menginap di rumah adik leslei. Disinilah anak-anak Ben bertemu dengan sepupunya, anak dari adik Leslei. Dalam sebuah percakapan, anak Ben terlihat bingung dan tidak mengerti apa itu Adidas, yang padahal itu kita ketahui sebagai merek sepatu. Tak bisa dipungkiri bahwa ini semacam dampak hidup di dalam hutan, mereka seperti ketinggalan zaman. 

Namun pada sebuah percakapan yang lain, ketika Ben kenanyakan apa itu bill of rights dua keponakannya yang menduduki kelas 2 SMA dan 1 SMP tidak mengetahuinya. Sedangkan anaknya yang masih berumur 8 tahun menjawabnya bahkan memaparkan dengan teori-teorinya. 

Rupanya cara mendidik Ben kedapa anak-anaknya bisa dibilang cukup efisien meskipun tidak dapat dielak pula bahwa ada kekurangannya. Membaca buku, bermain musik dan mengenal alam. Semua anak Ben tidak sedikitpun memilih celah mengenal gawai dan media eletronik lainnya. 

Di Indonesia, ketergantungan terhadap gawai semakin hari semakin meningkat. Tak hanya orang dewasa, remaja dan anak-anak bahkan sekarang para orang tua akan memberikan gawai mereka kepada anak balita demi menanggani kerewelan. Mirisnya mereka tidak tahu banyak itu akan beedampak buruk pada balita tersebut. 

Seorang psikolog mengatakan dampak buruk kecenderungan bermain gawai pada balita, "Dampak negatif yang banyak dialami oleh anak adalah speech delay (lambat bicara) dan akan diperparah dengan kondisi autisme," ujar dia.

Ulul faricha luqman 

Komentar

Postingan Populer