Sebuah Arus Balik, Tentang Bagaimana Nusantara Selepas Keruntuhan Majapahit.

"Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya,  semua bergerak dari nusantara di selatak ke 'Atas Angin' diutara. Tapi zaman berubah... Arus berbalik-- bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan."

Keagungan kerajaan majapahit memang layak untuk diakui. Bahkan kerajaan islam yang datang setelahnya tidak sedikitpun menyortir kebesaran namanya. Di masa kejayaannya terhitung 21 negara-daerah pernah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Maka tak heran pula jika waktu itu nusantara menjadi kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar diantara bangsa-bangsa beradab dimuka bumi. 

Namun selepas perang paregreg (perang saudara) dan tidak adanya tokoh pengganti yang berwibawa sedah Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kerajaan mulai bercerai-berai. Wilayah yang awalnya menjadi kekuasaan Majapahit bergerak memisahkan diri dan membangun kerajaan kecil sendiri. 

Dan begitulah, membaca Arus Baliknya Pramoedya Ananta Toer membawa kita seakan sedang menyelami kehidupan pasca kejayaannya nusantara di awal abad 16. Dimana kita mengalami refleksi yang mendalam akan banyak hal. Mulai dari percintaan, pencarian jati diri, politik hingga sebuah keyakinan. 

Fiksi sejarah ini, berawal dari petualangan sosok Galeng yang merupakan pemuda desa Awis Krambil dengan segala keperkasaan, kecerdasan dan kecakapannya. Selain memenangkan gelar raja gulat tabiat seperti itulah yang akhirnya membuat karirnya merangkak. Meski sejatinya Galeng hanya ingin menjadi petani biasa di desanya namun dikarenakan perintah dari Adipati akhirnya Galeng menjadi prajurit pengawal kerajaan. Lalu dengan segera Galeng dipercayai mengontrol pasukan Tuban untuk turun bersama Demak dibawah pimpinan Adipati Unus untuk menghadang Portugis. 

Jika kita menyoroti kehidupan Galeng sepertinya ada keterbatasan gerak bagi mereka yang menduduki kasta bawah. keadaan dimana mereka harus mematuhi apa yang telah menjadi titah kasta atas. Namun perlahan hal ini mulai tergerus setelah adanya Islam. 

Buku setebal 1192 halaman ini juga mengisahkan bagaimana kedatangan islam itu sendiri. Dimana agama yang dibawah oleh pedagang arab ini mulai menarik hati penduduk masyarakat pada masa itu. Walau peran wali songo tidak terlalu mencolok, namun tokoh Pada, seorang musyafir yang kemudian menganti namanya menjadi Muhammad Firman dapat menjadi sanad bagaimana islam mulai diterima oleh masyarakat. 

Selain itu juga ada tokoh Sayid al-masawa yang diceritakan sebagai seorang Muslim yang melebeli dirinya sebagai keturunan nabi namun sosoknya antagonis dan rakus akan kekuasaan. 

Sekarang saja, di Indonesia masih banyak politikus yang Membuat agama sebagai topeng dalam mendapatkan dukungan masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa urusan politik dan agama memang tidak pernah kendur, dia selalu seksi sepanjang masa. 

Presiden Indonesia yang bisa dibilang kental keagamaannya adalah Gus Dur, namun terlepas dari itu beliau sosok yang tidak mencampuradukan urusan satu dengan yang lain. Bahkan beliau dipanggil sebagai bapak Tionghoa, bukan karena agamanya tionghoa melainkan berkat jasa beliau agama tionghoa diakui di masyarakat Indonesia. 

Buku Arus Balik ini memang buku besar, kita akan menemukan banyak ketakjuban pada diri kita saat membacanya. Menemukan jati diri dan meraba hati bagaimana negara ini. Selamat membaca ;) 

Ulul Faricha Luqman 

Komentar

Postingan Populer