Resensi Rumah Kaca
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Perancang sampul: Ong Hari Wahyu
Genre: Fiksi Historis
Penerbit: Lentera Dipantara
Halaman: 646 halaman + 8 halaman prakata
ISBN: 979-97312-6-7
Rumah Kaca adalah penutup dari Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Diantara tiga roman sebelumnya yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa fan Jejak Langkah, roman Rumah Kaca memiliki perbedaan yang paling menonjol. Sebab peran utama dalam roman itu bukan lagi S.M Minke melainkan seorang sekaut (kepala polisi pada masa Jajanan Belanda) bernama Jacques Pengemanann.
Pada buku ini terungkap peristiwa-peristiwa di buku sebelumnya khususnya Jejak Langkah. Jacques Pengemanann, sebenarnya merupakan pengagum Minke yang dinilainya sebagai pelopor bangkitnya pribumi namun disisi lain Pengemanann adalah hamba pemerintahan Gubermen yang diperintahkan untuk membuang dan mengasingkan Minke di pulau sebrang. Hal ini lah yang akhirnya membuat pergulatan nurani pada seorang sekaut itu.
Pergulatan ini semakin menjadi-jadi lalu dengan bayang-bayang karir yang melejit tinggi ia memutuskan untuk menentang nurani dengan menyingkirkan Minke.
Dan begitulah persoalan dalam buku ini yang saat ini masih saja kita temui. Dimana seseorang memiliki ketamakan dalam jabatan. Tak puas dengan apa yang mereka miliki, mereka melakukan korupsi.
Bahkan dilansir dari moneysmart.id mantan presiden RI Soeharto pernah merugikan negara sebesar Rp. 490 triliun. Jumlah yang sangat fantastis. Aset yang beliau miliki diduga ada dimana-mana termasuk kota besar seperti Jakarta dan Bali.
Oleh: Ulul Faricha Luqman

Jejak langkah..cha..???mana???
BalasHapus