Pesan Kakek (1)



Sore itu. Kami berkumpul di ruang tengah. Dengan berat hati, aku dan sepupuku terpaksa mengalah mengikuti acara siaran televisi yang dipilih kakek. Mau bagaimana lagi, itu aturan tidak tertulis di rumah kami: barang siapa lebih dulu menyalakan Tv maka ia yang berkuasa untuk menentukan statiun televisi yang ingin ditonton.

"Seharusnya tadi kita lebih awal," Sepupuku berbisik.

"Udah, nggak papa. Paling bentar lagi kakek pergi. Kan belum sholat ashar," kataku ikut berbisik.

Kami akhirnya diam mengikut acara televisi.

Tajuk Utama Kompas
Kehadiran kapal penangkap ikan asing di Laut Natuna Utara mengingatkan betapa penting penguasaan  efektif dan kehadiran fisik kekuasaan kita di perairan. Seperti diberitakan harian ini pada jumat (3/1/2020) nelayan di Kebupatan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, meminta pemerintah segera menambah kekuatan patroli kapal penjaga laut. Kehadiran aparat di Laut Natuna Utara sangat dibutuhkan guna menangkal apa yang disebut oleh para nelayan "serbuan kapal pencari ikan dari China dan Vietnam.

Kedatangan kapal-kapal penangkap ikan yang di kawal kapal penjaga negara asing itu meningkat di Laut Natuna Utara pada Desember-Januari , bertepatan dengan musim angn utara. Pada periode ini nelayan lokal tidak melaut karena ombak sangat tinggi. Teknologi kapal mereka yang tidak memadai membuat nelayan natuna tak mampu mengatasinya. Selain itu tanpa pengawalan patrali nelayan natuan kesulitan saat berhadapan dengan kapal asing.

Belum lama ini kementrian luar negeri Republik Indonesia juga memprotes China terkait dengan penyataan kemenlu negera itu bahwa China rutin melakukan patroli di peraian sebelah utara natuna.

"Kakek lihat apaan sih. Aku nggak paham, pergi aja yuk," Sepupuku kembali berbisik. Kali ini sedikit lebih mendekat kearahku.

"Jangan. Udah disini aja, bentar lagi kakek pasti matiin Tv nya."

Sepupuku berdecak pelan meski akhirnya menyutujui ucapanku dengan tetap mengikuti acara Tv kakek. Aku mengelengkan kepalaku dan tersenyum, walaupun memiliki sifat yang tidak sabaran namun aku akui dia memiliki kesetiaan yang bisa diuji. Lihat aja, sekarang ia lebih memilih menemaniku daripada mengurus kejenuhannya terhadap tontonan kakek.

Dalam artikel di Harian Kompas Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia 2001-2004 Rokhim Dahuri menulis perairan Natuna termasuk wilayah laut yang belum digarap secara optimal serta menjadi ajang penangkapan ikan secara ilegal.

"Awas aja kalo Natuna lepas dari NKRI, berarti ada yang nggak beres dari negara ini."

Aku langsung menoleh dan membekak mulut sepupuku. Kampret! Katanya tadi bilang nggak paham dengan tontonan kakek tapi sekarang ia berkomentar, dengan suara keras pula. Bukan apa, hanya saja kakek tidak suka jika acara menontonnya diganggu. Pernah suatu kali kami tertawa keras-keras saat kakek sedang menonton Tv. Hasilnya, selama seminggu kami tidak bisa menonton tv karena sudah dikuasai kakek.

"Apaan sih Cha!," dia menyingkap tanganku. "jelas-jelas tadi penyiarnya bilang perairan natuna termasuk wilayah laut yang belum digarap secara optimal. Salah ya kalo aku bilang gitu, lagian bisa-bisanya ada yang bilang stay cool."

"Ya mungkin maksudnya biar kita nggak gegabah ambil keputusan, lagian.." aku memberikan kode bahwa ini daerah kekuasaan kakek. Sepupuku, secara reflek membekap mulutnya sendiri. Dia melototiku seakan bertanya gimana nih, kakek marah? Dan aku membalasnya dengan tatapan mau gimana? Udah kejadian.

"Betul itu kalo stay cool, Indonesia santai," kakek tiba-tiba bersuara. "kita harus merespon ini secara terencana. Kita perlu fokus mengurus tugas kita sebagai negara maritim. Memperdayakan nelayan dengan teknologi yang memadai juga membangun kekuatan maritim besar-besaran dari militer sampai Menteri Perikanan dan Kelautan. Dengan kekuatan maritim yang besar dan nelayan yang cukup terampil pasti pertahanan akan lebih mudah dilaksanakan."

"Tapi kek," takut-takut aku menyahut. "Stay coolnya sampai kapan? Gimana kalo terlalu terulur-ulur seperti kasus pelaku bom bali 1 yang katanya akan dieksekusi sebelum bulan puasa tapi-"

"Iya," sepupuku memotong. "Kan itu justru membuat rakyat cemas dan tidak tenang."

"Ah, anak muda zaman sekarang. Seharusnya kalian banyak husnudhon. Tumbuhkan rasa peraya pada pemimpin. Lalu untuk kasus bom bali itu kan bisa saja maksud mereka bukan bulan puasa tahun itu bisa jadi bulan puasa tahun depan atau tahun depannya lagi. Pokok sebelum bulan puasa meski maksudnya entah bulan puasa yang mana. Sudah, kakek mau sholat dulu."

Kakek berdiri dari kursinya dan berjalan menjauh. Sedangkan kami saling bertatapan dengan tatapan yang diri kami sendiri tidak tahu bagaimana cara menafsirkan tatapan kami.

Salam, 
Ulul Faricha Luqman 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer