Celoteh: untungnya kemanusiaan kita masih ada



Minggu lalu, aku login ke Facebook untuk melihat sebuah tulisan yang direkomendasikan oleh sepupuku. Tulisan itu sederhana berbunyi seperti ini: "Hidup Itu Baik = Subjektif"

Tidak ada hal istimewa yang aku dapati, tulisan semacam ini bukan hanya satu. Belasan bahkan puluhan pernah aku temui. Namun, yang membuatku tertarik adalah jumlah kolom komentar mencapai ratusan sedangkan jumlah like tidak ada satupun.

Iseng, kubuka kolom komentar itu dan meng-scroll ke bawah. Isinya beragam, tapi yang mencolok mataku hanya satu: Hidup Pak Prabowo

Dalam hati: apaan sih nih orang. Tulisannya apa, komennya apa.
Huh, karena tidak ingin menyusahkan kepalaku sendiri (aslinya sih males mikir), akhirnya aku scroll lagi ke bawah. Tapi tulisannya malah lebih tebal: Hidup Pak Prabowo

"Pasti gemes ya lihat kolom komentarnya," tiba-tiba sepupuku menyahut, dia datang dengan sepiring pisang goreng hangat dan langsung kusambut dengan comotan.

"Pasti itu dikait-kaitkan sama pernyataan kontroversial waktu debat untuk capres kemarin," ucapnya lagi.

Ah, yang itu. Sebenarnya aku langsung paham arah pembicaraannya, tapi aku berpura-pura tidak mengerti.

Tentu saja alasannya, agar perhatiannya teralihkan dari pisang goreng yang hampir separuh piring kuhabiskan.

"Yang mana?"                                                                                                               
"Yang itu: saya lebik baik pakai teknologi lama asal kekayaan kita semua tidak lari ke luar negeri."

Aku mengangguk-angguk tetap khusuk.

"Kan aneh!," lanjut sepupuku. "jika nggak pake teknologi terbaru hidup kita bakal lebih sulit, yang lain udah maju, nah kita?"

Aku masih mengangguk-angguk meski sebenarnya mau bilang: padahal perkataan Pak Prabrowo ini cukup menarik dan penuh filosofis

"Pak Pram aja bilang, kowe sudah pake pakaian eropa, bersama orang eropa, bisa sedikit bicara belanda lantas jadi eropa? Tetap monyet!. Apalagi kalo kita cuman ngerilik tanpa bisa ngikutin. Makin kalah aja kita!" sepupuku itu masih saja berceloteh, ia tidak sadar bahwa sekarang pisang gorengnya benar-benar telah habis.

Tapi, kasihannya sepupuku ini seperti terkena sindrom jika teknologi baru menandakan kemajuan. Bisa saja di masa depan ia melupakan esensi sebagai manusia.

"Memang patokannya maju apa?" tanyaku.

"Ya angka kemajuan ekonomi dan angka kemajuan teknologi."

"Kalo angkanya udah maju tapi manusia bahagia tetap segitu-gitu aja?," aku berdeham, tidak ada air.

"Ya kan naiknya angka-angka itu akan memberikan kebahagiaan lebih," katanya tiba-tiba ngotot.

"Kalo yang bahagia lebih cuman jejeran atas kayak pejabat gimana?"

Kulihat dia jadi gelisah, matanya melirik kesana-kemari.
"Udah ah, mana piringnya. Aku mau ambil pisang goreng lagi."

Dia menghilang dibalik pintu. Bersamaan menunggu dia kembali aku ikut meramaikan kolom komentar.

definisi progress itu sebenarnya  apa?
Untuk apa kemajuan teknologi jika kesejahteraan menusia tetap dengan porsi yang sama?
Untuk apa persaingan dengan negara lain?
Terus kenapa jika sebuah negara nggak maju?

Lalu komentar yang terakhir aku tulis dengan huruf tebal dan sengaja pake kapital.

MATINYA TEKNOLOGI BISA DIBANGUN KEMBALI. SEDANGKAN KEMANUSIAAN YANG MATI AKAN MENGHILANGKAN ESENSI HIDUP. SEMOGA KEMANUSIAAN KITA MASIH ADA.

Komentar

  1. Saat ini masih banyak hal yg saya rasa mencederai kemanusiaan itu sendiri, yang terbaru kasus penggusuran perumahan taman sari, oleh pemkab bandung. Langkah represif diambil oleh aparat yg mengamankan jalannya eksekusi, namun menurutku hal itu kebablasan, bisa kita lihat di video yg beredar, banyak aparat yang menghakimi demonstram dg cara jalanan, lantas kita yg bukan siapa2, memperjuangkan kemanusiaan ini yg seperti apa?
    Bisa kita berdiskusi dg sehat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer